Novel Kriminal sebagai Komentar Sosial

Akmal Nasery Basral, Ilusi Imperia dan Rahasia Imperia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014).

Kisah kriminal atau detektif mengandung keunikan tersendiri. Di situ pengarang merancang suatu tindak kejahatan, menebar petunjuk tentang motivasi dan modus operandi si tersangka pelaku, sekaligus mengecoh pembaca ke arah tersangka lain, sebelum akhirnya membeberkan apa yang sebenarnya terjadi. Semakin pelik kasus, semakin sulit ditebak, semakin mengasyikkan kisah itu. Ilusi Imperia (II) dan Rahasia Imperia (RI), dua novel Akmal Nasery Basral (ANB) yang menurut rencana akan digenapi sebagai trilogi ini, menawarkan jelujuran kisah semacam itu.

Ini tawaran yang lumayan menyegarkan. Sejauh ingatan saya, genre ini tidak banyak disentuh penulis Indonesia. Waktu kecil ada Dwianto Setiawan dan Djoko Lelono yang menuliskan kisah detektif bagi anak-anak, mengimbangi kisah detektif terjemahan. Saat remaja saya bertemu dengan Imung, detektif rekaan Arswendo Atmowiloto. Lalu, S. Mara Gd. dan V. Lestari menggulirkan kisah-kisah kriminal. Belakangan saya menemukan kisah kriminal supranatural dalam novel Abdullah Harahap (AH) yang diterbitkan ulang. Novel ANB ini menambah koleksi kisah kriminal Indonesia yang masih langka itu.

Mirip dengan AH, ANB tidak menghadirkan sosok detektif untuk membongkar kasus kriminal yang terjadi. AH dapat memakai penulis, polisi, atau menceritakannya dengan sudut pandang orang ketiga serbatahu. ANB menampilkan sosok Wikan Larasati, yang baru saja lulus kuliah secara cemerlang dan mulai bekerja sebagai reporter majalah berita.

Dalam II, Wikan meliput kasus pembunuhan Rangga Tohjaya, pengacara kondang yang meroket namanya setelah meloloskan Melanie Capricia (MC), diva pop, dan suaminya, Marendra, dari tuduhan plagiarisme. Rangga juga keponakan seorang jenderal purnawirawan, yang menurut desas-desus memiliki hubungan lancung dengan MC.

Dalam RI, menyambung kisah II, giliran MC dan Adel, manajernya, yang tewas terbunuh dalam waktu berdekatan di Mannheim, Jerman, dan di Zurich, Swiss. Wikan, yang terakhir bertemu dengan mereka, harus berurusan dengan polisi setempat, dan kemudian menelusuri kasus ini, yang ternyata melibatkan Mafia Albania dan gerakan Neo-Nazi.

Seberapa mengasyikkan kisah Wikan ini?
  
Gangguan Penceritaan
Baik II (380 halaman) maupun RI (431 halaman) enak dibaca sebagai novel, menawarkan kasus yang kompleks dan pelik, serta menampilkan tokoh-tokoh yang beragam dan kuat karakternya. Di satu sisi, kisahnya menguak saling-silang dunia jurnalisme, dunia hiburan, hukum (kehidupan pengacara), politik, dan permafiaan; di sisi lain, kita diajak melanglang buana dari Indonesia ke Jerman, Swiss, dan Turki. Ini memperlihatkan ketekunan ANB dalam melakukan riset, keluasan wawasannya, dan kelihaiannya merangkai alur cerita.

Namun, sebagai drama kriminal, yang butuh kegesitan bercerita untuk terus membetot perhatian pembaca, menyedotnya dari satu ketegangan ke ketegangan berikutnya, kisahnya terkesan agak tersendat. Ini terjadi karena ANB kerap menerangjelaskan berbagai hal di seputar kasus. Tentu saja tidak sedikit keterangan yang relevan dengan cerita, namun beberapa di antaranya terasa sebagai tempelan dan, sebaliknya, ada perkembangan cukup penting yang malah tidak disajikan bagi pembaca. Pembaca lalu seperti pelancong yang tiap sebentar diajak berhenti oleh pemandu, diberi informasi tentang obyek kunjungan. Keasyikan bertamasya kadang memudarkan ketegangan petualangan.

II sudah pernah diterbitkan sebagai Imperia (2005). Saya sudah membacanya, namun tidak mengoleksinya, sehingga tidak dapat membandingkannya secara langsung. Yang masih teringat, Imperia sempat melantur membahas scam Nigeria, yang memang marak saat itu. Dalam edisi ini, telah dilakukan penyuntingan ulang, dan cerita terasa bergerak lebih gesit. Namun, masih muncul, misalnya, pembahasan soal VRML, yang terasa tidak berkaitan kuat dengan alur cerita. Sebaliknya, pergeseran hubungan MC dan Marendra—dari dua sejoli mabuk kepayang, namun kemudian MC menjadi diva dan istri yang dominan, sedangkan Marendra menjadi suami yang pengalah dan ayah penyayang anak—tidak tergambar dengan baik.

Juga, yang lumayan mengecewakan, kemampuan istimewa Wikan dalam extra sensory perception (ESP) tidak tereksplorasi. Wikan hanya menunjukkanya—secara iseng?—dalam rapat redaksi pertama yang diikutinya sehingga menarik perhatian rekan yang memahami kemampuan itu. Rekan inilah yang mendukung diutusnya Wikan pergi ke Jerman untuk mewawancarai MC lebih lanjut. Dalam RI, Wikan sempat menggunakan kemampuan itu dua kali untuk merekonstruksi saat-saat menjelang ajal MC dan Adel. Toh keterangan tentang itu kemudian ia peroleh lebih detail dari dokter yang menangani mayat keduanya.

II dimulai dengan ledakan: paparan langsung pembunuhan Rangga Tohjaya. RI juga dibuka dengan pembunuhan, namun efek ledakannya kurang dahsyat karena pembunuhan itu muncul sebagai berita, bukan diceritakan langsung dari TKP. Selebihnya, secara keseluruhan, RI bergerak secara lebih sigap daripada II. Sudah semakin berkurang tempelannya meskipun di beberapa bagian masih terasa kesan tamasyanya, yang mengalihkan perhatian pembaca dari kegentingan kasus.

Cara Pemecahan Kasus
Tentang pemecahan kasus, saya tertarik membandingkannya dengan metode Hercule Poirot. Dalam novel Agatha Christie ini, biasanya kita disuguhi pola yang sama: ada mayat, Poirot hadir sebagai detektif yang menyelidiki perkara, mewancarai deretan tersangka, menyingkapkan karakter masing-masing, mempersilakan kita menebak siapa yang paling berpotensi sebagai pelaku. Klimaksnya, Poirot menganalisis kasus itu, menunjukkan siapa si pelaku, lengkap dengan motivasi dan modus operandi-nya. Kalau kita beruntung, tebakan kita cocok dengan analisis Poirot. Saya termasuk yang jarang beruntung.


Dalam novel ANB, kita tidak bertemu dengan sosok detektif. Kita berjumpa dengan Wikan Larasati, wartawan yang mengejar narasumber, yang kebetulan terlibat dalam kriminalitas. Dalam II, pembaca diajak menilik cerita dari perspektif sejumlah tokoh; dalam RI, kita mengintil gerak-gerik dan pemikiran Wikan.

Saat Poirot menganalisis kasus, ia berdiri sebagai pihak yang superior, dan para tersangka seperti domba kelu yang menunggu disembelih. Sebagai petugas resmi yang didukung pihak kepolisian, ia relatif dapat membeberkan analisisnya dengan tenang, sedangkan para tersangka—dan pembaca—tegang menyimaknya.

Posisi Wikan yang bukan detektif tak ayal memaksa penulis memikirkan metode lain untuk membongkar kasus. Dalam II, Wikan mendapatkan durian runtuh. Ia berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat: ketika si pelaku sudah pada puncak amarahnya, seperti gunung api yang lama tertidur tiba-tiba meletus, membeberkan sendiri motivasi dan modus operandi tindakan kriminalnya. Yang menyisakan pertanyaan: Apakah ketika pelaku meraup rezeki nomplok, ia sudah berencana menggunakan uang itu untuk mengupah pembunuh bayaran, yang terjadi enam tahun kemudian? Selebihnya, pengakuan yang sungguh mengejutkan, namun sekaligus terasa antiklimaks karena bukan protagonis kita yang membongkar kasus itu.

Dalam RI, saya tidak mempertanyakan kemampuan analisis Wikan. Namun, saya ragu dengan caranya membeberkan analisis itu: sebagai pihak inferior, dalam kondisi yang begitu genting dan dapat berakibat fatal baginya, dikelilingi para tersangka yang bermusuhan, siap menerkam dan menangkis penjelasannya—atau malah menghabisi nyawanya—dan ia sanggup memaparkan rangkaian kasus itu dengan jernih dan lancar. Ini sebuah “lompatan kuantum” bagi seorang Wikan yang bahkan beberapa menit sebelumnya masih grogi duduk berdekatan dengan dan dipersalahkan oleh atasannya.

Komentar Sosial
Di luar itu, novel ini menarik sebagai komentar sosial. Ada komentar yang terang-terangan, seperti ketika Wikan, dalam II, membandingkan antara kondisi kereta api di Swiss dan KRL Bogor-Jakarta. Namun, yang tak kalah menggelitik adalah komentar yang terselubung, mengundang kita untuk menebak-nebak dalam tataran yang lain.

Novel ini menggoda kita, mengundang kita membayangkan apa kiranya yang terjadi di balik kehidupan para seleb, politikus, dan dinamika media massa. Kemungkinan-kemungkinan muram di balik tampilan yang serba gemebyar. Kemungkinan-kemungkinan yang tak terungkap atau disembunyikan dari publik, namun sebenarnya terbayangkan. Dan ANB, yang cukup lama bertekun sebagai jurnalis, seakan sedang memberikan bocoran tentang keadaan yang sebenarnya—namun sekaligus menyelubunginya lagi sebagai fiksi.

Membaca MC, misalnya, kita mungkin ternganga, benarkah ada seleb yang hidup segemerlap ini. Namun, kita akan berhenti heran kalau mau sedikit memasang telinga menyimak kisah mereka dalam infotainment yang banal itu. Seorang seleb, misalnya, menyebut sederhana adalah memberi istri hadiah ulang tahun berupa mobil seharga dua miliar. Atau, bagi seleb lain, sederhana adalah mengajak ibunda berlibur ke Korea.

Kedua novel ini, terutama RI, menyoroti betapa hidup ini sering tidak seperti yang terlihat. Omongan salah satu tokoh, Stefan, tentang hidup dalam dunia majemuk, menarik untuk digarisbawahi: “Sekarang terangkan kepadaku, Wikan, jika sebagian besar orang di sekelilingmu, mungkin dirimu sendiri, mempunyai dua dunia berbeda yang dijalani, bahkan tiga sampai empat kehidupan atau lebih, bagaimana menyebut sesuatu sebagai ‘normal’ sementara yang lainnya ‘abnormal’?” Motif ini terpampang gamblang dalam “Epilog” II dan menjadi warna latar yang kuat sepanjang RI. Sosok Imperia—pelacur yang sukses menaklukkan Raja Sigismund (otoritas politik) dan Paus Martinus V (otoritas agama) sekaligus dalam genggaman kedua tangannya—terasa pas mewakili kehidupan ganda itu.

“Bocoran” lain yang tak kalah menarik: Tentang bagaimana kekuatan militer membekingi—dan sekaligus menyetir—media masa. Di situ ada wartawan senior sebuah media besar, yang berkawan dekat dengan seorang jenderal purnawirawan, dan bersama-sama ternyata menjadi agen komplotan global. Pembaca yang gemar mengikuti isu dan gonjang-ganjing dunia sastra satu dekade belakangan ini barangkali akan mengulum senyum, menebak-nebak siapa kiranya yang dijadikan acuan bagi tokoh itu. Apakah ini sebentuk strategi lain dari “ketika jurnalisme dibungkam, sastra bicara”? ***