Sri dan Gerhana Matahari Total



Bukankah kehidupan ini mirip juga dengan cuaca? Kadang-kadang cerah, kadang-kadang mendung; kadang-kadang panas, kadang-kadang hujan. Kadang menawarkan guncangan, pada waktu lain menyodorkan kejutan, secara mengusik menyingkapkan perspektif baru. Kehidupan tak segan-segan menyudutkan kita untuk bertanya: Kenapa hal ini terjadi kepadaku? Namun, tak jarang kita dibuat terperangah: Apa yang telah kubuat sampai dilimpahi berkah tak terduga ini? Dan ada kalanya pula kita tersentak: Perkara yang semula kita anggap biasa-biasa saja mendadak terasa begitu bermakna, justru ketika ia mulai surut menghilang.

Salah satu peristiwa yang mengguratkan arti tersendiri dalam bentangan masa hidup Sri yang baru beranjak remaja tidak lain adalah Gerhana Matahari Total (GMT).

Untuk pengalaman yang satu ini, ucapan terima kasih yang tulus patut dilayangkan pada Pak Suyadi, induk semang Simbok dan Sri. Pak Suyadi seorang purnawirawan ABRI. Bersama istri, ia menikmati masa pensiun dengan berkebun dan beternak di pekarangan. Tiga anak tertua mereka bekerja di luar kota; yang bungsu, Mbak Ratih, masih di rumah dan sedang wiyata bakti selulus dari SPG, menunggu pengangkatan sebagai guru SD.

Pak Suyadi membaca koran dan majalah dari ibukota, seperti Kompas, Intisari, dan Tempo. Karena belum ada agen di Ngadirejo, Kompas-nya dikirim dari Temanggung oleh anaknya yang bekerja di kantor pos. Setiap hari Pak Suyadi menerima koran edisi kemarin. Sri ingat, bagian atas halaman depan koran itu ditempeli prangko.

Beliaulah yang menyelamatkannya dari kerugian tak terkira melewatkan sebuah fenomena alam amat sangat langka, yang malah dihindari oleh sebagian besar penduduk yang mestinya menikmatinya. Itu semua gara-gara kebodohan pemerintah. Alih-alih menyediakan panduan untuk menyaksikan peristiwa itu secara aman, sembari mengundang wisatawan manca negara untuk berduyun-duyun datang berkunjung, sejak jauh hari pemerintah malah membiarkan saja beredarnya berbagai isu yang menakut-nakuti.

”Sudah beli kacamata hitam untuk melihat gerhana nanti?”

”Ah, aku akan melihat pantulannya saja dari air di baskom.”

”Ih, itu masih bisa bikin buta!”

”Pakai film yang terbakar bisa lho!”

”Kata siapa?!”

Melihat GMT akan membikin matamu buta! Agar aman, penduduk yang daerahnya dilewati gerhana disarankan berada di rumah saja selama berlangsungnya fenomena tersebut. Lubang-lubang dinding rumah yang bisa menjadi celah masuk sinar matahari mesti ditutup rapat-rapat dengan kertas koran, dengan kain, dengan apa saja.

Akibatnya, pada Hari-H, Sabtu, 11 Juni 1983, pagi-pagi orang sudah memilih untuk meringkuk di dalam rumah masing-masing macam anak ayam bersembunyi di ketiak induknya karena ngeri disambar elang, berpuas diri menonton laporan pandangan mata reporter TVRI yang mengoceh dari Borobodur dan Tanjung Kodok.

Lain di rumah Pak Suyadi. Ia hanya menutup pintu dan jendela rumah seperlunya. Tidak enak pada tetangga kalau terlalu provokatif. Selain keluarga Suyadi, Simbok dan Sri, ada juga dua keponakan Pak Suyadi yang sedang menginap. Mula-mula mereka juga berkumpul di depan televisi hitam-putih yang melaporkan bahwa kontak pertama telah terjadi, bayangan rembulan mulai menyentuh lingkaran matahari. Rasanya lamban sekali dan tidak genah di mana letak keindahannya di layar kaca selebar 14 inci itu. Sri sempat melirik ke luar melalui jendela kaca yang tertutup tirai tipis transparan. Pagi yang semula begitu cerah tampak mulai meredup. Tegang juga suasananya.

Begitu gerhana memasuki fase kontak kedua, ketika bayangan bulan menutupi matahari secara sempurna, Pak Suyadi mengajak orang ke luar rumah. Langit bening, seperti ketika malam terang bulan, atau seperti subuh yang jernih. Ayam-ayam bertengger di pagar, mengira hari mendadak petang. Hawa terasa adem dan tenteram.

”Apabila sudah gerhana total begini, malah aman kok,” katanya.

Masih agak waswas, Sri mendongak ke langit. Namun, segera saja kecemasannya berubah menjadi ketakjuban. Apa yang semula hanya bisa dibayangkannya melalui dongeng tentang Batara Kala yang mencaplok Batara Surya, kini terwujud nyata dalam pemandangan elok di puncak langit: Matahari yang tertutup bayangan bulan tepat di bagian tengahnya tampak seperti lingkaran hitam dengan bias cahaya korona putih cemerlang berpijar mengelilinginya. Totalitas yang memesona dan sekaligus mengundang ketakziman.

Ketika pandangan Sri beredar mengikuti lengkung langit, ia melihat sejumlah bintang berkelip. ”Itu Jaka Belek,” tunjuk Pak Suyadi pada si merah Planet Mars yang tampak cemerlang.

”Seumur hidup kau tak akan menyaksikan lagi GMT di tempat ini,” jelas Pak Suyadi setelah kontak kedua yang berlangsung sekitar tujuh menit itu berakhir. “Setiap tempat di bumi hanya berkesempatan menyaksikan GMT satu kali dalam siklus empat ratusan tahun.”

Sri tergeragap. Empat ratus tahun? Sri mencoba membalik-balik halaman sejarah. Tepat 400 tahun lalu, Sultan Baabullah, yang membawa Ternate ke masa keemasannya, meninggal dunia. Kira-kira pada masa itulah Sutawijaya, yang kelak dikenal sebagai Panembahan Senopati, memberontak dari Pajang untuk menegakkan Kesultanan Mataram. Portugis dan VOC belum menginjakkan kaki di bumi pertiwi. Eropa sendiri masih geger setelah terbelah oleh Reformasi Luther. Lalu, 400 tahun yang akan datang? Otak Sri kewalahan untuk menjangkaunya.

Ketika hari Senin di sekolah tidak banyak temannya yang bisa bercerita tentang keindahan GMT, Sri bersyukur dan sekaligus prihatin. Lisa termasuk yang tidak berani ke luar dari rumah. Alhasil, bukannya saling menceritakan keelokan GMT, mereka malah ribut berbicara tentang suasana tegang yang mencekam di dalam rumah mereka masing-masing! Ketidakbecusan pemerintah benar-benar telah menjadi Batara Kala yang mencaplok kesempatan banyak orang untuk menatap dengan mata kepala sendiri kejadian langka penuh pesona tersebut.

(Sumber: Warrior: Sepatu untuk Sahabat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007)