Kelas Menulis Asyik di PPA IO-740 “Nain”, Muntilan




Pendahuluan untuk buku Aku dan Duniaku, Kumpulan Naskah Terpilih Kelas “Menulis Asyik” 2014-2015.

Ketika menerima proposal dari Ibu Yani Tri Wahyuni untuk terlibat dalam program “Menulis Asyik” di PPA IO-740 “Nain”, Muntilan, saya sangat senang—dan sekaligus tertantang. Sejauh ini, dalam pelatihan tulis-menulis, saya lebih banyak berhadapan dengan peserta dewasa. Pernah juga selama dua tahun mengajar kelas kreatif untuk anak kelas 6-8. Jumlah peserta juga terbatas, maksimal 20 orang. Nah, kali ini pesertanya lebih muda: anak-anak kelas 3-6 SD—dan, seluruhnya berjumlah 64 orang!

Sejumlah pertanyaan berkelebatan dalam benak saya. Bagaimana menyiapkan materi pelatihan yang memotivasi anak-anak itu sehingga mereka dapat menyadari bahwa tulis-menulis itu aktivitas yang asyik dan menyenangkan? Bagaimana metode dan pendekatan pelatihan yang tepat untuk mereka? Dan, bagaimana menaklukkan anak-anak kecil sebanyak itu, yang tentu sulit diatur karena memang sedang lasak-lasaknya?

Saat mengajar anak kelas 6-8, saya memberikan porsi cukup banyak untuk teori dasar, seperti tentang kalimat sederhana, kalimat luas, dan kalimat gabung. Tentu saja saya berusaha menyampaikannya dalam versi yang sederhana. Nyatanya, dalam pengamatan saya, anak-anak masih kerepotan menerapkannya. Saya pun memutuskan untuk ganti gigi. Porsi teori saya pangkas, saya lebih sering menyodorkan pada mereka contoh tulisan bagus, meminta mereka membaca dan menyimaknya, kemudian menulis naskah serupa. Ternyata hal itu—mendapatkan gambaran tentang tulisan yang bagus—lebih memicu semangat mereka. Keterampilan berbahasa mereka juga pelan-pelan membaik.

Mengingat pengalaman itu, untuk menghadapi anak-anak PPA ini, saya menyiapkan metode “belajar sambil bermain”. Teorinya “tipis” saja. Yang penting, mereka berlatih untuk terbiasa menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan.

Pelatihan semula dirancang sebulan sekali, namun kemudian diubah menjadi 2 minggu sekali. Untuk mengatasi jumlah peserta yang relatif banyak, kami membaginya menjadi dua kelas: Kelas Besar (5-6 SD) 30 orang dan Kelas Kecil (3-4 SD) 34 orang. Saya dibantu Bpk. Kristian J. Nugroho untuk menangani mereka.

Untuk 10 sesi pelatihan, saya menyiapkan materi berikut ini. Sesi pertama, pengantar bahwa menulis itu sarana untuk mencatat pengalaman pancaindra, baik indra jasmani maupun indra batin. Menulis juga sarana berkomunikasi, seperti berbicara namun dalam bentuk tulisan. Kemudian anak diminta menulis berdasarkan pengalaman pancaindra dan diberi tugas menulis di buku harian.

Kedua, menyalin tulisan orang lain sebagai sebentuk keterampilan membaca intensif. Untuk mengembangkan kebiasaan menulis, seseorang perlu rajin membaca. Menulis adalah kegiatan menuangkan pemikiran dalam tulisan. Ketika membaca tulisan orang lain, secara tidak langsung kita belajar cara berpikir si penulis, dan hal itu dapat menolong membentuk cara berpikir kita sendiri. Dengan harapan, kalau cara berpikir kita runtut, kita akan lebih mudah menuangkannya menjadi tulisan. Nah, menyalin tulisan yang berkualitas adalah salah satu strategi untuk mengintensifkan pembelajaran ini. Materi yang kami gunakan kemarin adalah "Ibu yang Jenaka" (A.S. Laksana) untuk kelas besar dan "Orang Samaria yang Murah Hati" untuk kelas kecil.

Ketiga, menulis dengan menjawab pertanyaan atau mengisi titik-titik (melanjutkan kalimat). Keempat, menulis setelah menonton film. Anak-anak diminta menuliskan cerita film tersebut. Yang diputar adalah animasi Three Little Pigs (Disney, 1932) dan film pendek Say Hello to Yellow (Sanggar Cantrik, 2011). Kelima, menulis berdasarkan tema tertentu, dilakukan sembari outing di Ketep Pass. Disediakan delapan tema, dan anak-anak diminta menulis berdasarkan tema yang mereka dapatkan melalui undian. Selain itu, rombongan juga sempat menikmati film tentang Gunung Merapi. Kemudian, kami memilih tulisan terbaik dari masing-masing kelas. Sebagai juara umum terpilih Marcelliana Jufrinka W (kelas 6). Adapun juara kelas 5 Dina Eka Natalia, kelas 4 Daniela Putri Andreyani, dan kelas 3 Desvita Dwi Maharani. Mereka diberi hadiah buku cerita sebagai dorongan agar rajin membaca.

Keenam, mengulangi pelajaran tentang menulis berdasarkan pancaindra, kali ini dengan topik “Aku Melihat”, meminta anak menggambarkan benda, hewan, tumbuhan, atau manusia secara spesifik. Ketujuh, menulis cerita berdasarkan komik. Kedelapan, menulis tentang sahabat masing-masing berdasarkan wawancara dan pengamatan. Kesembilan, menulis puisi. Sebelumnya, anak-anak telah dibekali buku tipis kumpulan sejumlah puisi Indonesia sebagai contoh. Pada pertemuan terakhir, sesi kesepuluh, anak-anak dipersilakan menulis bebas menurut topik yang mereka sukai dan menuliskan kesan tentang program “Menulis Asyik” yang mereka jalani.

Meskipun setiap dua minggu harus naik motor Yogyakarta-Muntilan bolak-balik, sebagai pembimbing, saya merasa program ini menyenangkan. Saya tidak menduga anak-anak terlihat bersemangat mengikutinya. Tentu saja, jangan dibayangkan mereka duduk tenang saat menyimak petunjuk dan mengerjakan tugas. Sebaliknya! Sepanjang kelas berlangsung, mereka paling hanya tenang saat berdoa dan sebentar saat menyimak petunjuk. Selebihnya, mereka asyik sendiri, ribut sendiri, usil sendiri, dan saling mengganggu satu sama lain—sambil mengerjakan tugas! Mau tak mau kami perlu mengambil tindakan untuk sedikit meredakan kehebohan itu. Pertama, kami memisahkan antara Kelas Besar dan Kelas Kecil. Ya, Kelas Besar relatif sudah lebih anteng dibandingkan Kelas Kecil. Kedua, untuk Kelas Kecil yang ribut itu, kami memberlakukan pendekatan “bebas tapi aman”. Artinya, mereka bebas mengerjakan tugas sambil melakukan aktivitas lain, dalam posisi yang mereka anggap nyaman, selama kegiatan tersebut tidak membahayakan. Hasilnya lumayan efektif. Meskipun kualitasnya jadi kurang optimal, mereka selalu menyelesaikan tugas yang diberikan. Selain itu, mereka tidak ragu-ragu bertanya jika ada petunjuk yang kurang jelas.

Nah, pertanyaan mereka itu kadang-kadang mengagetkan. Hal-hal yang kami anggap sudah jelas, ternyata membingungkan bagi mereka. Misalnya, ketika kami mengajak mereka berlatih menulis deskriptif “Aku Melihat”. Kami meminta mereka menggambarkan benda, tanaman, hewan, dan manusia. Perintah dalam kertas tugas berbunyi: "Gambarkan sebuah benda... dst." Apa yang terjadi? Beberapa anak—cukup banyak—mendatangi saya dan bertanya, "Pak, ini maksudnya disuruh menggambar ya?" Dan, ternyata, sebelum sempat diluruskan, ada anak yang bukannya menulis, ia malah benar-benar menggambar di kertasnya! Saya pun terpaksa bolak-balik menjelaskan sambil cengar-cengir.

Setelah 10 kali pertemuan, tibalah waktu untuk menyusun kumpulan tulisan mereka. Naskah diseleksi terutama dari pelatihan di Ketep Pass, sesi penulisan puisi, dan pertemuan terakhir. Selain naskah, buku ini juga dihiasi gambar karya anak-anak dan foto-foto dokumentasi kegiatan “Menulis Asyik”.

Secara teknik berbahasa dan kemampuan menyampaikan gagasan secara runtut, mereka memang masih menghadapi kesulitan. Bisa dihitung dengan jari naskah yang hanya mengalami penyuntingan ringan dalam kedua aspek tersebut. Namun, dalam kepolosan dan keterbatasan mereka, tidak jarang mereka menampilkan sudut pandang yang menggelitik atas dunia sekitar yang mereka tuangkan ke dalam tulisan. Keunikan sudut pandang inilah yang kami garis bawahi, semoga cukup mencuat dalam karya-karya yang terpilih untuk diterbitkan ini. Dan, hasil terpenting dari pelatihan ini masih perlu kita nantikan: setelah anak-anak itu terbiasa—dan menikmati—kegiatan tulis-menulis, kiranya mereka akan terus menekuni dan mengembangkannya sampai mereka besar nanti. Kita tunggu!

Di luar itu, di tengah perjalanan pelatihan, kami mengalami peristiwa duka. Suatu malam menjelang tidur, saya membuka SMS dari Ibu Yani. Ia mengirimnya sore hari, namun saya terlambat membacanya. Isinya? "Mas, dua anak PPA yang ikut kelas ‘Menulis Asyik’ siang tadi berpulang karena tenggelam sewaktu bermain di sungai, Sherine dan Helena, dua anak centil yang selfie dengan Mas Kris." Saya tertegun dan hanya dapat berdoa dalam hati, “Tuhan, biarlah kasih-Mu mendekap kedua kawan kecil itu dan menghangatkan hati keluarga yang ditinggalkan.” Semoga buku ini sekaligus dapat menjadi kenangan bagi mereka, Sherine Elvaretta Nindya dan Helena Joice.

Selebihnya, selamat menyimak kesemarakan dunia dalam catatan tertulis anak-anak Muntilan ini. Tak lupa, saya berterima kasih kepada PPA IO-740 “Nain” karena telah melibatkan saya dalam program yang menantang dan mengasyikkan ini. ***