Relung Renung: Mesin Hukum Taurat



Mesin tidak bisa diajak berdiskusi. Mesin ATM, misalnya. Jika kita keliru memasukkan PIN sampai tiga kali, otomatis kartu kita diblokir. Kita bisa mencoba menggunakan kartu itu di mesin ATM lain, marah-marah, menendang dan memukul mesin itu—semuanya tidak akan mengubah keadaan; atau, keadaan kita akan berubah karena kita ditangkap dan diamankan satpam bank setempat. Kita bisa meratap-ratap, kita bisa memohon-mohon kelonggaran dan kemurahan, mesin itu tetap bergeming. Tidak ada ruang buat berunding. Mesin tidak akan bersimpati pada kita. Mesin tidak akan berbelas kasihan atas nasib kita.

Hukum Taurat kira-kira beroperasi seperti itu: tidak mengenal diskusi. Ia hanya menawarkan satu alternatif: kalau mau lolos verifikasi, kalau berharap hidup kita dibenarkan menurut hukum Taurat, kita harus lulus ujian 100%, taat mutlak tanpa pernah terpeleset seinci sekalipun. Gagal 0,001% saja, kita akan diblokir. “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya” (Yakobus 2:10).

Kita harus menjalani seluruh hidup kita sebagai garis lurus. Kita harus menjaga kekudusan terus-menerus. Kita harus mempertahankan kemurnian hati sepanjang waktu. Melenceng sedikit saja, gagal sudah. Tidak bisa ditawar-tawar. Tidak ada kesempatan untuk negosiasi. Tidak sudi ia diajak berdiskusi. Tidak ada kompromi. Tidak ada belas kasihan. Sebaliknya, ia akan terus mengingatkan kita, mengintimidasi kita, dengan ancaman hukuman yang akan menimpa kita karena kegagagalan kita. Begitulah. Standar hukum Taurat memang begitu tinggi. Begitu baik. Begitu suci. Sempurna. Seratus persen benar atau tidak sama sekali.

Ketika kita bermasalah dengan ATM tadi, masih ada jalan keluar. Yang mesti kita lakukan adalah mendatangi orang di balik mesin itu—pegawai bank—dan memintanya untuk mengaktifkan kartu kita lagi. Hukum Taurat tidak begitu. Kita tidak dapat berdoa meminta tuntutan hukum Taurat diringankan dengan alasan, “Yah, kita ini kan cuma manusia, tempatnya luput dan salah. Tidak ada manusia yang sempurna ‘kan?” Kita tidak dapat berpuasa untuk menghapuskan kesalahan dan kegagalan kita yang tercatat dalam database hukum Taurat. Kita tidak dapat mempersembahkan korban, mendermakan kekayaan, atau bahkan menyerahkan nyawa dan mati sebagai martir untuk menebus pelanggaran yang sudah kita lakukan. Tidak bisa. Jasa dan kebaikan kita hanya dianggap seperti telur busuk menjijikkan yang pantas dibuang jauh-jauh. Hukum Taurat menuntut kesempurnaan hidup yang utuh, tak bercacat, tak bercela. Tanpa kesempurnaan hidup, kita binasa di hadapan hukum Taurat.

Dan, kita hanya punya kesempatan satu kali sepanjang hidup untuk memenuhi tuntutan itu. Maka, ketika jatah masa hidup kita di dunia ini berakhir, terlambat sudah. Tidak ada lagi kesempatan untuk mengaktifkan kartu kehidupan kita. Sedihnya, menurut catatan sejarah, tidak ada seorang manusia pun yang berhasil lolos verifikasi kesalehan menurut hukum Taurat.

Jadi, kalau kita mengharapkan kebenaran berdasarkan hukum Taurat, silakan—menurut data statistik, kesempatan untuk lolos: nol, nihil, tidak ada, mustahil. Jalan buntu. Tak ada harapan. Sia-sia.

Itu kalau kita berharap pada hukum Taurat. Itu kalau kita berusaha hidup dibenarkan di hadapan Tuhan berdasarkan perbuatan baik, amal ibadah, dan kesalehan kita sendiri.

Syukurlah, ada jalan lain. Hukum Taurat yang beroperasi seperti mesin itu bukan satu-satunya jalan. Tuhan, Sang Empunya Hukum Taurat, menawarkan jalan alternatif—atau sesungguhnya jalan utama—yang cemerlang.

Bukan seperti pegawai bank yang harus didatangi setiap kali kartu ATM kita bermasalah, Allahlah yang datang kepada kita dan menyelesaikan masalah kita satu kali untuk selama-lamanya. Allah bukan datang sebagai mesin. Allah bukan datang sebagai robot. Sebaliknya, Allah datang sebagai Anak Manusia—dalam darah dan daging—sama seperti kita. “Dia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” Anak Manusia, Yesus Kristus, menggenapi tuntutan hukum Taurat dalam tubuh-Nya. Dan, dengan kematian-Nya di kayu salib, Dia menebus manusia dari kutuk kegagalan mematuhi hukum Taurat. Tidak berhenti di situ, melalui kematian-Nya, Dia membuka jalan bagi kita untuk menerima kehidupan baru, kehidupan yang melampaui hukum Taurat, kehidupan yang dialiri oleh kehidupan-Nya sendiri: kita diterima sebagai anak-anak Allah. Dia membukakan jalan yang baru: jalan kasih karunia.

Bayangkan betapa radikal perbedaannya! Dalam sistem Taurat, kita berhadapan dengan “mesin” hukum yang tidak kenal kompromi dan tidak berbelas kasihan. Dalam sistem kasih karunia, kita berhadapan dengan Bapa, yang melimpahi kita dengan kasih karunia demi kasih karunia.

Kita dapat menerima kasih karunia ini dengan iman, dengan percaya pada penebusan Kristus di kayu salib. Ketika kita beriman kepada Yesus Kristus, kita mengikatkan diri pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Dengan kata lain, kebenaran Kristus diperhitungkan sebagai kebenaran kita. Kekudusan Kristus diperhitungkan sebagai kekudusan kita. Kita tidak perlu lagi membawa kartu kesalehan kita masing-masing untuk diterima oleh Allah. Sebaliknya, kita dijadikan manusia baru—Kristus ada di dalam diri kita, dan kita ada di dalam Kristus, dan kita diterima sebagai anak di hadapan Allah—satu kali untuk selama-lamanya.

Dalam sistem kasih karunia ini, kasih Allah selalu memverifikasi kita, membenarkan kita. Kasih-Nya senantiasa meloloskan kita. Sekalipun kita gagal dan melenceng, kita tidak akan pernah lagi ditolak. Sekalipun kita berulang-ulang keliru memasukkan nomor PIN, kita tidak akan pernah lagi diblokir. Kita bukan lagi orang asing. Kita tidak akan pernah dibiarkan tergeletak, kita tidak akan pernah ditelantarkan, kita tidak akan pernah dibiarkan seorang diri, kita tidak lagi ditakut-takuti dengan ancaman hukuman. Kita adalah anak-Nya. Kita bukan lagi berhadapan dengan mesin hukum yang dingin dan beku. Sebaliknya, kita disambut sebagaimana adanya kita. Kita direngkuh dalam dekapan kasih kekal seorang Bapa, yang hangat dan hidup senantiasa. Kasihnya tidak pernah gagal. Kasihnya tidak berkesudahan.

Kita dapat hidup berdamai dengan kesalahan, kegagalan, dan kelemahan kita. Bukan untuk memakluminya. Bukan untuk berkompromi. Namun, untuk merendahkan diri dan menyadari bahwa kita tidak mampu mengatasinya dengan segala daya upaya dan kemampuan diri kita. Kita hanya dapat terus-menerus memberi diri ke dalam pelukan kasih karunia-Nya—dalam cuaca yang bagus, dalam cuaca yang buruk, dalam jatuh bangun kita, dalam segala keadaan kita.

Sebagai Bapa, Dia bukan hanya membenarkan kita dan memerdekakan kita dari ancaman hukuman. Dia juga mengajari, melatih, memampukan, dan menyempurnakan kita untuk hidup dalam kebenaran. “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.” Dengan kata lain, kita diundang untuk memasuki suatu kehidupan baru. Kehidupan yang melampaui sistem hukum Taurat. Kehidupan yang bukan lagi bergerak seperti mesin menurut ketaatan pada serangkaian hukum dan peraturan. Sebaliknya, sebuah kehidupan berdasarkan hubungan personal dengan Allah yang penuh kasih dan mengundang kita untuk mempercayai Dia sebagaimana seorang anak mempercayai bapanya. Dia rindu menyatakan kasih-Nya di dalam dan melalui kehidupan kita.

Ketika kita gagal, jatuh-bangun dalam proses pelatihan ini, bahkan tidak jarang sengaja memberontak, Dia tidak mengerutkan dahi, kecewa, berbalik membelakangi, dan meninggalkan kita. Dia tidak pernah mematahkan semangat kita. Dia tidak pernah mengungkit-ungkit kelemahan kita. Dia tidak pernah mencebik dan berkata, “Apa Kubilang? Makanya, taat! Dengerin firman-Ku!” Tidak. Dia tak akan lelah melatih kita. Dia tak akan bosan menyemangati kita. Dia akan terus-menerus memotivasi kita untuk mencoba dan mencoba lagi.

Di mata Bapa, sebagai manusia baru, kita sudah sempurna sebagaimana Kristus adalah sempurna. Dia sedang melatih kita untuk terus belajar mengungkapkan kesempurnaan itu di dalam langkah-langkah keseharian kita, di dalam kehidupan jasmani kita. Dia selalu bangga akan kita. Dia senantiasa bergembira atas kita melebihi kegembiraan seorang ayah atas anak kesayangannya. Ya, kitalah anak-anak kesayangan-Nya. Bapa mengasihi kita dengan kasih yang kekal sebagaimana Dia mengasihi Yesus Kristus.

Tuhan Yesus tidak berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan berbagai hukum agama dan peraturan ibadah kepadamu.”

Sebaliknya, Dia berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Kelegaan—karena “Engkau sudah dikasihi. Engkau sudah diampuni. Engkau sudah dibenarkan. Engkau sudah dikuduskan. Engkau sudah diterima sebagai anak Allah—satu kali untuk selama-lamanya. Mari, hiduplah sebagai anak Allah.”

Bersediakah kita menyambut undangan-Nya itu? Kiranya kita dapat mengakui iman kita kepadanya sebagaimana dideklarasikan oleh Rasul Paulus, “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”