Kehidupan yang Baik



Apakah kebaikan itu? Apakah kebahagiaan itu? Kapan kita merasa kehidupan kita baik-baik saja? Kapan kita merasa bahagia? Kapan kita merasa diberkati?

Sebagai orang percaya, kita menyatakan bahwa Tuhan itu Imanuel: Dia senantiasa menyertai kita. Tidak pernah meninggalkan kita, tidak pernah membiarkan kita seorang diri.

Pertanyaannya: Pada waktu-waktu seperti apa kita lebih mudah merasakan penyertaan-Nya, dan kapan pula kita merasa Dia jauh, tidak peduli, bahkan berdiam diri?

Kalau saya, sewaktu matahari pagi bersinar cerah, sewaktu stok makanan dan camilan di rumah terjaga, sewaktu kami sekeluarga sehat sejahtera, sewaktu saldo rekening terus meroket, sewaktu hasil kerja saya dihargai orang, sewaktu kami sekeluarga bisa bertamasya dengan riang gembira... singkatnya, sewaktu saya merasa sukses dan bahagia, saat itulah saya cenderung lebih gampang merasa dan mengklaim bahwa Tuhan memeluk saya. Saya merasa hidup saya baik-baik saja. Saya merasa bahagia. Saya merasa diberkati.

Sebaliknya, ketika jalan hidup berkelok tidak seperti yang saya rencanakan atau saya harapkan, ketika masalah bermunculan tumpuk undung yang satu belum rampung yang lain sudah nongol... nah, pada saat-saat seperti itulah, saya cenderung lebih gampang gusar dan stres, kehilangan damai sejahtera. Pada saat-saat seperti itu, lagu lembut "Gusti Nuntun Lampah Kula" pun bisa jadi tidak mempan untuk menolong mengubah suasana hati. Saya merasa nasib saya sedang malang. Saya kecewa. Saya merasa jauh dari berkat Tuhan.

Lalu, ketika mencermati sekali lagi kisah Yusuf, saya menemukan kejutan.

Ketika Yusuf menerima jubah mahaindah, penulis Kitab Kejadian tidak berkomentar bahwa Tuhan menunjukkan kemurahan-Nya kepada Yusuf.

Ketika Yusuf mendapatkan mimpi-mimpi yang menggairahkan hatinya, penulis juga tidak menegaskan bahwa mimpi itu berasal dari Tuhan.

Namun, ketika Yusuf dikhianati saudara-saudaranya, terpisah dari ayah yang sangat menyayanginya, menjadi budak bagi orang asing di negeri yang jauh, penulis secara khusus membubuhkan, "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf."

Kemudian, ketika Yusuf difitnah oleh Nyonya Potifar, dan Potifar tidak membelanya, namun malah murka, dan melemparkan Yusuf ke penjara, kembali penulis secara khusus menambahkan catatan, "TUHAN menyertai Yusuf"--kali ini sebanyak dua kali!

Jadi?

Jadi, saya cuma bisa tercenung: Jalan-Mu memang bukan jalanku. Betapa selama ini saya cenderung lebih suka mimik susu: menganggap penyertaan Tuhan sejajar dengan perasaan saya. Kisah Yusuf mengundang saya untuk belajar mencerna makanan keras: menemukan penyertaan-Nya, bahkan di dalam lembah kekelaman. Saya perlu belajar menyadari penyertaan Tuhan bukan hanya di tempat-tempat yang jernih dan terang, melainkan juga di tempat-tempat yang remang atau malah gelap gulita.

Perjanjian Baru nyatanya menggarisbawahi, menebalkan, pengertian tersebut. Kata yang digunakan Yesus untuk “baik” dalam Alkitab adalah makarios atau blessed (diberkati, KJV), berbahagia (TB). Amplified Bible menguraikannya sebagai: ”bahagia, patut dicemburui, dan makmur secara rohani—dengan sukacita kehidupan dan kepuasan batin di dalam kemurahan dan keselamatan Allah, bagaimanapun kondisi lahiriah orang tersebut.”

”Patut dicemburui.” Kita diam-diam iri melihat kehidupan selebritas, tetapi Tuhan Yesus menunjukkan kondisi kehidupan seperti apa yang patut kita cemburui. Berbahagialah orang yang miskin. Berbahagialah orang yang berdukacita. Berbahagialah orang yang lemah lembut. Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran. Berbahagialah orang yang memiliki hubungan personal dengan Allah, yang hidup di dalam realitas Allah, di dalam hadirat-Nya, di dalam kuasa-Nya, di dalam kasih-Nya. Berbahagialah Anda, sekalipun tampaknya Anda tidak mengecap kehidupan baik yang ditawarkan oleh dunia ini. Berbahagialah bila Anda sekarang telah memasuki kerajaan ini, realitas ini. Kondisi seperti itulah yang patut dicemburui!

“Bagaimanapun kondisi lahiriah orang tersebut.” Kita kadang-kadang mencampuradukkan kehidupan yang baik versi Yesus dengan kehidupan yang baik versi dunia. Kita merasa baru benar-benar diberkati ketika kondisi lahiriah kita sehat dan makmur. Atau, lebih jauh lagi, kita membuat klaim: ”Orang saleh/benar pasti sehat dan makmur.” Kalau kita meneliti Alkitab, ketaatan kepada kebenaran memang dapat mendatangkan kesehatan jasmani dan kemakmuran materi, tetapi tidak kurang pula ketaatan yang justru mendatangkan penderitaan dan penganiayaan. Silakan baca baik-baik kehidupan Paulus atau Ibrani 11, misalnya. ”Dunia ini tidak layak bagi mereka” (Ibrani 11:38). Artinya, ukuran dunia ini tidak berlaku bagi mereka, versi kehidupan baik menurut dunia tidak cocok bagi mereka.

”Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat” (2 Korintus 11:23-28). Pada akhir hidupnya, Paulus berkata, ”Engkau tahu bahwa semua mereka yang di daerah Asia Kecil berpaling dari padaku; termasuk Figelus dan Hermogenes” (2 Timotius 1:15). Pertanyaan: Kalau menurut ukuran dunia, menurut versi dunia, apakah kehidupan Paulus adalah kehidupan yang baik, yang bahagia, yang diberkati, yang sukses? Adakah yang akan ”mengiklankan” kehidupan seperti itu? Sebaliknya, apa kira-kira yang akan dikatakan Yesus tentang kehidupan Paulus?

Paulus mengaku bahwa ia mengenal baik kekurangan maupun kelimpahan, tetapi ”Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Baginya, kekurangan dan kelimpahan bukanlah barometer kondisi hidupnya. Baik-buruk kehidupannya tidak ditentukan oleh kekurangan ataupun kelimpahan. Baik-buruk kehidupannya ditandai oleh satu hal: apakah ia berpegang teguh pada realitas yang sesungguhnya, bergantung sepenuhnya pada Allah, di tengah segala perkara, di tengah apa pun kondisi lahiriah yang melingkupinya.

Sekali lagi, saya perlu belajar menyadari bahwa penyertaan Tuhan bukan hanya di tempat-tempat yang jernih dan terang, melainkan juga di tempat-tempat yang remang atau malah gelap gulita. Kehidupan sering berada di luar kontrol kita. Keadaan tidak jarang serasa gelap gulita. Kita seperti masuk ke dalam lembah kekelaman. Pada saat-saat seperti itulah kita diajak untuk melihat apa yang tidak terlihat. Untuk melihat apa yang hanya bisa dilihat dengan mata iman. Bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia. Dan, kebaikan itu berarti menjadikan serupa dengan gambaran Anak-Nya.