Tergusurnya Angkot Kami



Lebaran 2017 H+7. Masih pagi di Kaliurang. Utomo (bukan nama sebenarnya) memerlukan angkutan umum untuk turun ke Yogya.

“Colt ke Yogya masih ada ‘kan?”

Utomo mengajukan pertanyaan itu kepada tiga orang, dan mendapatkan jawaban yang mirip-mirip.

“Masih kok. Cuma ya kadang-kadang.”

Ia mengerutkan kening. Seberapa lama kadang-kadang ini? Sudah setengah jam, belum ada satu pun colt yang terlihat naik atau turun.

Bukan berarti Kaliurang sepi. Sebaliknya. Dari pangkalan di dekat patung udang raksasa yang menjadi penanda wilayah, belasan Jeep Willys hilir-mudik pergi-pulang mengantar pengunjung menikmati Lava Tour Merapi. Sementara itu, berderet mobil keluarga parkir di tepi jalan. Meskipun sinar matahari lumayan menyengat, orang-orang terlihat ceria menikmati udara segar pegunungan.

Namun, colt Kaliurang-Yogya yang ditunggunya tak kunjung nongol. Sudah satu jam lebih. Setelah menumpang duduk di pos SAR, Utomo menghubungi seorang teman penarik ojek, memintanya menjemput. Posisi temannya di Bulaksumur, jadi perlu sekitar satu jam untuk sampai di tempatnya menunggu. Baiklah. Paling enggak lebih ada kepastian, pikirnya.

Kira-kira pukul 10.15 WIB—jadi, sudah dua jam lebih ia menunggu—muncullah sebuah colt angkutan umum. Namun, bukan menuju Yogya, melainkan naik ke stanplat Pasar Tlogo Putri.

Kalau menunggu colt ini kembali ke Yogya, perlu waktu berapa lama ya? Satu jam lagi? Entahlah. Utomo tidak tahu karena temannya sudah lebih dulu datang, dan ia pun membonceng motor meluncur turun.

Pesan moral cerita di atas: Sekarang ini susah mencari angkutan umum di Yogyakarta.

Mau menikmati Kaliurang dan daerah tujuan wisata lain di sekitar Yogya dengan naik kendaraan umum? Silakan. Kemungkinan besar Anda terpaksa berpanas-panas menunggu berlama-lama dan gigit jari. Jika ingin nyaman, ya Anda mesti memiliki kendaraan pribadi atau menyewanya.

Itu tadi transportasi ke daerah pinggiran. Bagaimana dengan transportasi dalam kota? Tak kalah runyam.

Saya pernah melakukan pengamatan kecil. Anak kami bersepeda ke sekolah, tetapi saya beberapa kali mengantarnya naik motor. Nah, hitung-hitung sembari mengamati situasi dan kondisi lalu lintas kota tercinta.

Jarak dari rumah ke sekolah 4,5 kilometer, dapat ditempuh dengan motor selama 25 menit. Sepanjang perjalanan saya melihat-lihat berapa banyak angkutan umum perkotaan (angkot) yang lewat. Sekalian berjaga-jaga, kalau-kalau anak kami beralangan naik sepeda dan saya tidak bisa mengantar, ada alternatif angkot.

Semula sempat terpikir naik TransJogja. Namun, halte terdekat yang memiliki tempat penitipan sepeda ada di terminal Jombor. Jaraknya dari rumah sudah separuh lebih perjalanan ke sekolah, dan malah menjauh ke utara. Dan, dari sana tidak ada jalur yang langsung ke halte di dekat sekolahnya. Entah harus loncat berapa kali, dan berapa lama bisa sampai ke tujuan. Alternatif ini terpaksa disingkirkan.

Dulu, dua puluhan tahun yang lalu, seingat saya angkot masih meraja. Ya, ketika bus kota 15 jalur dan aneka angkot alternatif lain masih berseliweran di jalan-jalan kota pelajar ini. Saya sendiri dari kos di Karanggayam ke kampus di Karangmalang biasa jalan kaki. Kalau mau pergi agak jauh bisa naik sepeda atau angkot.

Sekarang, kendaraan pribadi—termasuk motor saya—berjubel memenuhi jalan. Dalam perjalanan berangkat, saya baru bertemu dengan angkot setelah berkendara 20 menit. Dan, sampai pulang ke rumah lagi, kalau tidak salah hitung, saya hanya berpapasan dengan tujuh angkot. Itu pun kebanyakan kosong tak berpenumpang. Kalau begini caranya, angkot benar-benar menjadi pilihan paling bontot.

Tampaknya memang begitu perkembangan dua puluh tahun belakangan. Yogya tak mau kalah, mengikuti kecenderungan kota-kota besar di Indonesia. Ruang untuk kendaraan pribadi kian meruyak, sedangkan angkot kian terdesak. Dibiarkan hidup segan mati tak hendak.

Angkot kian tergusur karena warga kian makmur dan mampu membeli kendaraan pribadi. Kendaraan pribadi inilah yang kini memadati jalanan. Kemacetan pun tak terelakkan. Terlebih saat akhir pekan panjang. Terlebih lagi saat libur Lebaran membentang hingga sepuluh hari. Begitulah. Yogya menambahkan satu lagi ciri keistimewaan: istimewa macetnya.

Beberapa film animasi Jepang menawarkan perbandingan yang menarik. Whisper of the Heart (1995), The Garden of Words (2013), dan Your Name (2016), misalnya. Selain terpana oleh gambar animasinya, terpikat oleh alur ceritanya, saya takjub menyaksikan tata kota tempat kisah berlangsung. Apalagi seorang teman yang pernah tinggal di Jepang menambahkan, kota-kota di sana memang seperti itu.

Sungguh senang melihat orang berjalan kaki dengan leluasa. Naik sepeda pun terlihat menyenangkan. Naik kereta tampak efisien. Dari stasiun kereta menuju sekolah, berjalan melewati taman kota yang permai. Di tengah taman ada saung di tepi danau yang elok, nyaman untuk berteduh saat kelelahan. Kurang apa lagi coba?

Takjub melihat kondisi di sebelah sana, dan mengelus dada melihat kondisi di sebelah sini. Kapan Yogya—dan kota-kota lain di Indonesia—memiliki tata kota yang memanusiakan warganya? Yang menghargai para pejalan kaki dan kaum difabel? Yang mengutamakan fasilitas transportasi umum yang manusiawi, memadai, tangguh, dan berjangkauan luas, bukan memanjakan para pemilik kendaraan pribadi?

“A developed country is not a place where the poor have cars. It’s where the rich use public transportation,” kata Enrique Penalosa, mantan walikota Bogota, Kolumbia.

Saya bukan pengamat atau aktivis tata kota. Saya hanya warga yang ingin menikmati fasilitas transportasi umum yang bagus. Namun, saya tidak seperti beberapa orang yang aktif menyerukan perbaikan tata kota dan mendukungnya dengan gaya hidup yang konsisten: bepergian dengan angkot, bersepeda, atau berjalan kaki.

Saya malah ikut andil atas makin tergusurnya angkot. Karena saya lebih suka naik motor atau taksi kalau bepergian di kota ini. Lebih nyaman dan lebih praktis. Meskipun harga yang mesti dibayar sejatinya mahal: kemacetan dan juga polusi udara yang kian parah. Ah!

Ada lagi yang hilang gara-gara tergusurnya angkot ini. Dulu, piknik umumnya adalah acara komunitas: sekolah, kantor, kampung, lembaga. Bisa dengan mengumpulkan iuran secara langsung atau lewat arisan terlebih dahulu untuk menyewa bus. Biasanya piknik bareng ini dilakukan pada musim liburan panjang. Piknik jadi ajang mempererat silaturahmi.

Kini, piknik cenderung menjadi urusan keluarga atau pribadi. Dengan kendaraan pribadi, orang leluasa piknik tiap akhir pekan, akhir pekan panjang, atau kapan saja ada kesempatan. Lalu, memajangnya di akun medsos masing-masing. Asyik sendiri-sendiri.

Yang tidak punya kendaraan pribadi? Menunggu piknik bareng—yang semakin langka. Menyewa kendaraan—merogoh dompet relatif lebih dalam. Nunut tetangga sebelah yang lebih beruntung—andaikan mereka longgar dan bermurah hati. Atau, gigit jari—ngejogrok meratapi nasib kenapa tidak ikut terangkut kereta cepat pembangunan, mengeluh kenapa fasilitas transportasi umum yang layak dan terjangkau terus terabaikan, kenapa ini kenapa itu.

Zaman melaju. Gaya hidup pun berpacu mengikutinya. Ada yang mampu beradaptasi; ada yang terpaksa mati. Sesederhana itukah? ***

Comments

Popular Posts