Warrior: Curhat 80-an Wong Temanggung*


 

Oleh: Anindita S. Thayf**

Warrior: Sepatu Untuk Sahabat (WSUS) adalah salah satu novel remaja Arie Saptaji yang begitu saya tahu diterbitkan oleh salah satu penerbit besar, yang telah menolak naskah saya berkali-kali, membuat saya bergegas terbang untuk membelinya. Alasannya sudah pasti; ingin mengetahui resep rahasia sang penulis hingga berhasil mencuri hati para editor di penerbitan itu. Kali ini, dalam acara Dialog Sastra, saya berkesempatan membagi apa yang saya anggap sebagai “resep rahasia” Arie Saptaji dalam menulis Warrior: Sepatu Untuk Sahabat (Gramedia Pustaka Utama, 2007).

Yang Lain Daripada Yang Lain

Memasuki tahun 2000, novel remaja lebih dikenal dengan nama baru yang terdengar lebih “wah”: teenlit atau teen literature. Sebuah label berbahasa non-Indonesia untuk novel yang isinya tetap ditulis menggunakan bahasa Indonesia—meski tidak 100% karena disusupi bahasa asing di sana-sini. Novel-novel remaja tersebut diceritakan dengan gaya bahasa yang ringan dan tema ala remaja yang ringan pula. Pada sampul WSUS, label “Teenlit: Speaks Your World” juga terlihat melekat di bagian tengah bawah, yang berarti  novel ini (oleh penerbitnya) dikotakkan sebagai novel remaja yang berkisah tentang dunia remaja.

Namun, berbeda dari kebanyakan novel remaja yang terbit akhir-akhir ini, WSUS memiliki keunikan tersendiri, yang membuatnya berbeda daripada yang lain.

Pertama, isi WSUS terbukti 100% bebas kontaminasi bahasa asing (baca: bahasa Inggris), kecuali kata “Warrior” pada judulnya yang semula saya artikan sebagai “Prajurit”, tetapi ternyata mengacu pada merk sepatu tertentu:

Sepatu kets bertali warna hitam kombinasi putih itu memang lagi beken. Di bagian yang menutupi mata kaki ada lingkaran karet bergambar timbul kepala prajurit Indian: Warrior. (hal 139-140)

Kedua, tema WSUS sangat sederhana, yaitu tentang sepatu. WSUS berkisah tentang anak seorang janda penjual kue lopis bernama Sri Suryani. Sri adalah murid yang berbakat di bidang olahraga. Dia terpilih sebagai salah satu peserta kelompok gerak jalan di sekolahnya, SMP Negeri Ngadirejo. Kelompok tersebut akan mengikuti lomba gerak jalan melawan sejumlah sekolah dari daerah lain. Semula, Sri merasa gembira karena terpilih mewakili sekolah bersama teman-temannya, tapi Sri kemudian teringat sepatunya. Sri yang berasal dari keluarga miskin tidak mampu membeli sepatu baru. Sepatu Sri, bermerk Bibos, sudah berlubang di bagian kelingking, hingga membuatnya minder. Cerita pun bergulir tentang bagaimana usaha Sri mendapatkan sepatu baru; apakah dengan menabung, meminjam, atau meminta bantuan Simbok (ibu Sri). Ketika akhirnya uang tabungan Sri terkumpul (setelah sebelumnya, tanpa terduga, ibu seorang sahabat meminta Sri membantunya membuat kue), Sri justru menggunakannya untuk membantu biaya operasi sahabatnya yang lain. Impian Sri membeli sepatu baru pun kandas. Meski begitu, kisah Sri ini berakhir bahagia karena seorang sahabat muncul sebagai penyelamat yang membelikan Sri sepasang sepatu baru dengan uang tabungannya.

Sebenarnya, kisah dengan tema serupa (tentang seorang anak dari keluarga tak mampu yang menginginkan sepasang sepatu, atau tentang seorang remaja yang dipandang sebelah mata oleh teman-temannya tapi mampu membuktikan prestasi yang bagus di bidang olahraga, atau tentang anak dari keluarga sederhana yang terbiasa menderita tapi tetap baik dan rendah hati) tidak begitu asing lagi. Tema sejenis mengingatkan saya pada sebuah film Indonesia jaman dulu Gadis Marathon, film asal Iran yang berjudul Children of Heaven, juga sinetron-sinetron tahun 90-an yang bertema kesederhanaan hidup: Rumah Masa Depan, Keluarga Cemara. Tapi, begitu tema tersebut diangkat oleh Arie Saptaji lewat novel remajanya ini, hal tersebut menjadi sesuatu yang unik (baca: berbeda) dari kebanyakan tema novel remaja yang ada. Kesederhanaan yang ditawarkan WSUS serupa angin segar di tengah keseragaman tema cinta-cintaan dan gaya hidup remaja urban yang terkesan glamor dan cenderung konsumerisme. Inilah yang menjadi salah satu rahasia kekuatan novel ini.

Yang Berasal Dari Hati dan Ditulis Dengan Hati-hati

Hati. Arie Saptaji menulis novel WSUS dengan hati. Campur tangan hati diakui sendiri oleh penulisnya lewat sebuah kalimat di halaman pertama yang berbunyi:

“Sekelumit kenangan tentang Ngadirejo, Temanggung dan tahun 1980-an.”

Sekilas, kalimat tersebut serupa sebuah persembahan, apalagi ditempatkan di bawah kalimat: “Untuk Bapak”. Namun, begitu pembaca melangkah masuk ke halaman demi halaman berikutnya,  maka kata “Ngadirejo” dan  “Temanggung” akan sering muncul sebagai setting kisah, begitu pun suasana tahun 1980-an seolah hidup kembali sejak awal hingga akhir novel. Sebagai pembaca, saya langsung berkesimpulan kalau WSUS mungkin lebih tepat disebut sebagai novel yang berisi pengalaman dan kenangan hidup sang penulis. Untuk selanjutnya, saya sebut saja sebagai “novel curhat”.

Sebagai “novel curhat”, WSUS bukanlah novel remaja pertama yang berasal dari cucuran hati si penulis. Sebagian besar novel remaja masa kini terinspirasi atau bermula dari pengalaman hidup penulisnya, yang kemudian ditumpahkan dalam bentuk buku harian atau blog pribadi, yang pada akhirnya berhasil diterbitkan dalam bentuk buku. Tapi, sebagai penulis yang telah menghasilkan banyak karya dan ada pula yang menorehkan prestasi, Arie Saptaji bercurhat dengan santun dan hati-hati. Ia tidak terjebak dalam keinginan untuk mengeluarkan semuanya sekaligus hingga meninggalkan kesan terburu-buru. Disebabkan hal itu, novel ini terkesan lebih hidup, baik penggambaran tokoh Sri maupun deskripsi setting-nya. Sebagai penulis, Arie Saptaji berhasil membawa kembali kenangannya tentang suasana Ngadirejo di tahun 1980-an dengan cukup meyakinkan.

Jawa dan Non Jawa

WSUS adalah novel remaja yang bernuansa Jawa sangat kental. Hal ini sudah terlihat sejak halaman pertama:

Mestinya wajah Sri sumringah penuh penantian seperti teman-teman lainnya. (hal: 7)

Bagi pembaca yang tidak tahu arti kata sumringah (dalam buku sengaja dicetak dengan huruf miring), dapat melihat pada Daftar Istilah Bahasa Jawa yang terselip di halaman paling belakang. Daftar tersebut tampaknya sengaja disisipkan oleh penulis mengingat banyaknya istilah bahasa Jawa yang digunakannya dalam novel ini.

Sebagai pembaca yang tidak berasal dari suku Jawa, terus terang, saya merasa cukup terganggu mengikuti kisah Sri. Perasaan yang mungkin hampir sama dengan yang  dialami oleh para penggila sinetron ketika serenteng iklan menginterupsi adegan favorit mereka. Mengeluh dalam hati sambil membiarkan iklan tersebut lewat, sementara saya mengeluh karena harus melompat ke halaman belakang untuk mencari arti kata tersebut dalam daftar istilah bahasa Jawa yang ada.

Yang sering saya alami ketika membaca WSUS adalah begini, saya yang sudah merasa terbawa hanyut oleh arus cerita tiba-tiba merasa diputus secara paksa oleh sebuah istilah atau kalimat bahasa Jawa yang tidak saya pahami. Meskipun bisa saja saya melompati istilah tersebut, dengan membaca kata atau kalimat selanjutnya, tapi tidak saya lakukan karena saya merasa ingin memahami kisah novel ini seutuhnya, tanpa ada bolong yang berisi tanda tanya.

Baru sekitar setahun PLN tersambung ke desa mereka, mengalirkan energi listrik siang-malam. Masuknya PLN itu mengakhiri era PLTD, pembangkit listrik tenaga diesel, yang hanya dinyalakan setiap petang sampai pagi. Berakhir pula kebiasaan Sri menyiapkan lampu petromaks…

… Kini ia tinggal menekan sakelar untuk menyalakan lampu neon 40 watt yang memendarkan warna putih susu. Mereka masih menyiapkan lampu teplok untuk berjaga-jaga kalau terjadi oglangan.  (hal: 95)

Sri merasa kerongkongannya tersekat, matanya panas.

“Dhuh Gusti paringana pepadhang,” ratap Lik Tumi (hal: 142)

Jika istilah dan kalimat di atas bisa ditemukan artinya dengan cukup mudah pada daftar istilah, maka ada pula istilah yang mampu menyesatkan para pembaca non Jawa karena multitafsir. Contoh, kata “wong”.

“Kalau dipikir-pikir, apa coba yang membuatmu kepingin melempari jambu Pak Karto? Wong di rumahmu buah-buahan sudah berlimpah begini!” cetus Sri suatu ketika. (hal: 103)

“Kalau wayang wong sebenanarnya saya suka, Pak,” kata Sri. (hal: 111)

“Lha bojoku saja digondol wong wedok lain, apa ya masih ada wong lanang yang masih mau kecantol sama aku,” kata Lik Tumi. (hal: 46)

Untuk satu kata yang sama, “wong”, penulis hanya memasukkan arti kata “wong” pada kalimat ketiga dalam daftar istilah.

Wong wedok = perempuan

Wong lanang = laki-laki  (hal: 183)

Sementara, kata “wong” pada kalimat pertama dan  kedua tidak ada di dalam daftar istilah. Ini menyebabkan pembaca dipaksa menebak-nebak arti kata “wong” yang tidak terjelaskan itu.

Bagi pembaca non Jawa, selain kata/istilah atau kalimat berbahasa Jawa, hal lain yang juga cukup membingungkan adalah hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat Jawa.

Sebagai penulis yang berasal dari Jawa,  tentunya Arie Saptaji sudah terbiasa mendengar nama hari disebutkan dalam urutan Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing, bukan Senin, Selasa, Rabu…. dan seterusnya hingga Minggu. Di Jawa, urutan hari itu disebut hari pasaran karena pasar-pasar di Jawa dibuka berdasarkan urutan hari tersebut.

Setiap hari Wage Simbok berangkat agak siang karena dia berjualan di Pasar Adiwinangun… (hal: 35)

Begitu pula nama sejenis permainan, yang walau telah berusaha digambarkan dengan detil oleh si penulis, tetapi pada awalnya terasa membingungkan bagi pembaca non Jawa.

Sri ingat, saat bermain jamuran, mereka sudah dengan cerdas langsung membuat peraturan awal: jamur kendi borot hanya boleh diminta satu kali sepanjang permainan. Jamuran, dolanan yang dimainkan dengan menembangkan Jamuran, menawarkan keasyikan berain peran….  (hal: 96)

Remaja Jadoel VS Remaja Jaman Sekarang

Seperti yang telah saya katakan di atas, saya sempat mengira arti kata “Warrior” pada judul novel karya Arie Saptaji ini adalah “prajurit”. Nyatanya, yang dimaksud Warrior adalah merk sepatu yang terkenal pada tahun 1980-an. Begitu tahu hal tersebut, otak saya dengan mudah menggambarkan kembali bentuk sepatu kets hitam beraksen putih yang pernah saya miliki dulu. Pertanyaannya, apakah anak remaja jaman sekarang (baca: yang lahir setelah tahun 1980-an) dengan mudah bisa menangkap maksud si penulis ketika memilih untuk menyisipkan begitu banyak istilah yang populer pada tahun 1980-an? Apakah tidak terjadi hal yang sebaliknya, mereka merasa ada suatu lompatan waktu yang tidak mereka mengerti, termasuk salah satunya membedakan antara sepatu Warrior yang beken jaman dulu dengan sneakers yang populer saat ini?

Bagi saya, yang tergolong remaja jadoel alias remaja jaman dulu, membaca WSUS ibarat membuka-buka album memori masa sekolah dulu. Banyak istilah yang telah saya kenali bertebaran di mana-mana. Misalnya, Lagu Pilihanku, Dunia Dalam Berita, Lima Sekawan, Little House hingga potongan bait lagu “Apanya Dong” milik Euis Darliah. Istilah-istilah itu muncul serupa kliping detil dari nuansa tahun 1980-an yang mau tak mau membuat setiap pembaca yang berstatus remaja jadoel dengan mudah mengikuti arus kisah Sri, termasuk saya. Hingga tibalah saya pada sebuah istilah yang kurang begitu saya kenali dan membuat saya bertanya kesana-kemari. Saya hanya mengenal Bobo dan Bibi Tutup Pintu, sebaliknya tidak dengan Kuncung dan Nenek Limbak. Siapa mereka?

Sri duduk di ambang pintu, membaca Si Kuncung yang dipinjamnya dari Mbak Ratih. Ia paling suka dengan Nenek Limbak. Dulu ada sempat terpikir olehnya untuk menyurati Nenek Limbak, agar membantunya mengatasi masalah sepatu. (hal: 98).

Pesan dan Kesan

Tak dapat dimungkiri, novel WSUS ini sarat pesan moral yang berguna, terutama bagi remaja. Yaitu, tentang persahabatan yang tulus dan kesederhaan hidup. Pesan moral dalam novel ini tersaji begitu sederhana dan apa adanya. Tak tampak  dipaksakan atau menggurui.

Sayangnya, novel ini pun sarat informasi yang menurut saya kurang penting. Informasi tersebut berupa artikel, biografi singkat sejumlah tokoh, hingga sebuah cerpen ditampilkan utuh dalam novel ini—cerpen tersebut bukan hasil karya si tokoh utama, Sri, melainkan bapak sahabatnya. Dari 177 halaman novel ini, sekitar 22 halamannya berisi informasi yang tidak ada sangkut pautnya dengan alur cerita. Seolah disajikan agar membuat pembacanya menjadi lebih pintar, tapi entah mengapa jsutru terkesan memaksakan. Misalnya, potongan artikel tentang Discovery, biografi  Adam Malik, Indira Gandhi, Jesse Owen, hingga Purnomo, sprinter Indonesia yang lolos ke semifinal 100 meter Olimpiade di Los Angeles, 1984. Terdapat pula, informasi yang terkesan lebih merupakan suara penulis, bukan suara Sri.

Sri tergeragap. Empat ratus tahun? Sri mencoba membalik-balik halaman sejarah. Tepat 400 tahun lalu, Sultan Baabullah, yang membawa Ternate ke masa keemasannya, meninggal dunia… dan VOC belum menginjakkan kaki di bumi pertiwi. Eropa sendiri masih geger setelah terbelah oleh Reformasi Luther….” (hal: 94)

Novel ini juga cukup sarat dengan kalimat indah dan kata-kata yang jarang digunakan dalam sebuah novel remaja jaman sekarang. Kata-kata yang memaksa pembacanya mengerutkan kening, mencoba menebak-nebak, sebelum kemudian membuka kamus Bahasa Indonesia untuk mencari artinya jika penasaran.

Namun, terlepas dari segala kekurangannya, Warrior: Sepatu Untuk Sahabat adalah salah satu novel remaja yang bertema sederhana dan sarat pesan moral.  Novel yang berhasil membawa pembacanya, terutama para remaja era 1980-an, bernostalgia ke masa lalu, termasuk saya.***

* Disampaikan dalam Obrolan Sastra yang diadakan kerjasama antara komunitas Apresiasi Sastra dengan Yayasan Umar Kayam, Yogyakarta, 5 Mei 2009.

** Penulis novel konyol dan novel anak. Novel etnografinya tentang Papua, Tanah Tabu, menjadi juara tunggal Sayembara Novel DKJ 2008.

*** Ulasan ini berdasarkan Warrior: Sepatu untuk Sahabat (GPU, 2007). Novel ini diterbitkan ulang oleh Pustaka Patria (2020) bersama dengan dua novel lain dalam Trilogi Temanggung, yaitu Dalam Rinai Hujan dan Temanggung, Yogyakarta.

Comments