Simbol yang Bingung



Koper (Richard Oh, 2006)

Koper, koper yang terhilang, apa sih isi dirimu? (Dan, sebelumnya hamba minta maaf karena hendak membocorkan "isi" dirimu itu.)

Koper itu ditemukan Yahya (Anjasmara), seorang pegawai bagian arsip yang sudah puas dengan pencapaian dan penghasilannya sejauh ini. Istrinya, Yasmin (Maya Hasan), yakin koper itu berisi uang semilyar dari perampokan bank yang diceritakan tetangganya, Sri (Virnie Ismail).

Koper adalah karya debut Richard Oh, novelis penggagas Khatulistiwa Literary Award dan pendiri jaringan toko buku QB World Books. Dengan film ini, ia hendak menawarkan sajian, black comedy, komedi dibumbui satire. Berhasilkah?

Film ini mencoba memotret benturan sikap dan persepsi antara Yahya dan orang-orang di sekitarnya. Yasmin, yang merengek menginginkan taraf hidup yang lebih baik, mendesak Yahya membuka saja koper itu. Yahya, sebaliknya, bersikukuh mengembalikan koper itu kepada entah siapa pemiliknya, dengan cara apa pun. Koper itu sendiri entah bagaimana mengubah cara pandang para tetangga dan rekan sekerja Yahya terhadap pria penggemar P. Ramlee itu. Dan Yahya pun mengalami berbagai masalah "yang absurd sekaligus menggairahkan".

Frasa "yang absurd sekaligus menggairahkan" saya comot dari sinopsis dalam situs Jogja-Netpac Asian Film Festival 2006, ajang tempat film ini diputar perdana untuk publik. Ternyata, Koper memang absurd. Tidak masuk akal. Mustahil. Sayangnya, saya tidak berhasil menemukan di mana menggairahkannya.

Keabsurdan itu bertolak justru dari pilihan untuk membuat isi koper itu, ikut-ikutan Pulp Fiction, tetap misterius sampai akhir. Karena isi koper itu serbaspekulatif, perubahan sikap yang begitu drastis pada orang-orang di sekitar Yahya jadi tak terjelaskan. Hanya gara-gara dia tiba-tiba menenteng sebuah koper, mendadak orang sekantor, bahkan atasannya, bersikap amat ramah terhadapnya? Saat isi koper belum jelas, Pak RT sudah mengerahkan centeng berotot untuk mengawal Yahya? Absurd tak? Atau, itu termasuk bagian dari satire yang dimaksudkan: betapa masyarakat kita cenderung sudah heboh atas sesuatu yang masih tak jelas?

Keabsurdan itu juga terjadi karena film ini gamang di mana hendak berpijak: komedi yang berangkat dari realitas sosial atau komedi yang berlangsung di alam mimpi (ilusi)? Rangkaian shot atau sekuen awal, yang menurut Jim Emerson, editor RogerEbert.com, merupakan bagian mahapenting untuk membaca niatan sebuah film, menjanjikan yang pertama. Kecurigaan akan kemungkinan kedua muncul dengan hadirnya tokoh yang diperankan Djaduk Ferianto. Saat Yahya sedang duduk menunggu bus, dalam posisi yang mengingatkan pada Forest Gump, tokoh itu duduk di sebelahnya, asyik meniup harmonika. Namun, menjelang Yahya naik bus, tokoh itu telah lenyap secara misterius. Hanya ilusi?

Lalu, Yahya sedang mabuk saat menemukan koper itu. Ajaibnya, ternyata dia bisa membaca, dan nantinya langsung teringat, nomor plat mobil orang yang mungkin menjatuhkan koper itu. Heran juga dia masih sempat membawa pulang koper itu. Mimpi 'kali ya?

Sengaja tadi tak saya sebutkan tokoh yang diperankan Djaduk. Karena, di film memang dibuat misterius dan baru jelas saat credit title bergulung. Anehnya, kenapa sebutannya dalam bahasa Inggris? Anehnya lagi, penjelasan itu membikin penafsiran film ini kian absurd.

Maka, pada satu titik, penonton yang belum tercemar menjadi absurd akan mengubah pertanyaannya: Koper, koper yang terhilang, simbol apa sih dirimu?

Apakah koper itu simbol dari durian runtuh, rejeki nomplok, lotere - keberuntungan? Kalau begitu, ya tidak usah repot-repot disimbolkan, langsung saja diwujudkan. Selama koper itu belum dibuka, dan selama belum terbukti isinya memang segepok uang, durian itu belum runtuh, rejeki itu belum nomplok, lotere itu belum dimenangkan. Sesederhana itu.

Masalahnya, kalau koper itu simbol keberuntungan, tanggapan orang-orang di sekitar Yahya jadi betul-betul absurd. Polisi, yang jelas-jelas meminta uang sogokan saat Yahya hendak melaporkan temuannya, kenapa justru menolak rejeki nomplok itu dengan alasan yang sok filosofis? Kenapa para tetangganya juga bukannya malah dengki? Barangkali mereka jauh lebih berbudi luhur daripada para tetangga Kino dalam The Pearl-nya John Steinbeck.

Kemungkinan kedua, dikaitkan dengan tokoh yang diperankan Djaduk tadi, tampaknya si koper dimaksudkan sebagai simbol sesuatu yang nonmateri. Entah itu integritas, entah itu kebahagiaan hidup. Kalau demikian, tanggapan orang-orang di sekitar Yahya tambah absurd lagi. Materialistis banget gitu lho! Untuk apa coba mereka mendadak antre mau menjilat dan memanfaatkannya? (Dan, ngomong-ngomong, seberapa basah sih bagian arsip, kok bisa-bisanya menjadi mesin uang bagi sebuah instansi?) Ngapain pula Yahya kudu repot-repot berpikir mengembalikan koper itu? Kalau Yahya dimaksudkan sebagai sebagai wakil sosok yang berpegang teguh pada integritas, mungkin ia bisa mengambil inspirasi dari Kameda dalam The Idiot-nya Akira Kurosawa.

Kemungkinan terakhir, koper itu, seperti diisyaratkan tagline film ini, tak lain adalah sesuatu yang kita cari, padahal kita tidak tahu apa yang hilang. Bingung dengan ungkapan barusan: "sesuatu yang kita cari, padahal kita tidak tahu apa yang hilang"? Oh, film ini bertaburan dengan ungkapan serupa itu, tertulis pada beberapa papan iklan dan badan bus. Salah satunya: "Jalan yang benar itu tidak meninggalkan jejak". Ada yang bisa menjelaskan mangsudnya? Inikah yang dimaksudkan dengan "Ilusi justru lebih riil daripada realitas itu sendiri" (kata-kata Richard Oh dalam sebuah wawancara)?

Berarti, koper itu hanyalah ilusi. Bagi Yahya, koper itu membangkitkan ilusi tentang integritas yang perlu dipertahankan. Bagi Yasmin, koper itu mengusik ilusi tentang rejeki nomplok. Bagi tetangga dan rekan sekantornya, ilusi yang lain lagi. Begitu? Wah, kalau begitu, Koper (ya, dengan "K" besar) ini mirip dengan Cincin yang harus dimusnahkan di Mordor itu, dong!

Atau, hanya Yahya yang berilusi? Semua orang dan peristiwa yang ditemuinya hanyalah ilusi? Itu bisa ciamik kalau meniru model pelintiran ala The Sixth Sense!

Eh, kenapa dari tadi perbandingannya dengan film dan novel asing melulu? Sebenarnya ada sebuah judul film Indonesia yang muncul dalam ingatan, dan rasanya cocok sebagai bahan perbandingan. Masalahnya, bagaimana mengakses lagi film Sang Guru yang diperani oleh S. Bagio itu? Ada sinetron remake-nya, namun saya belum menontonnya.

Selain itu, tokoh-tokoh film ini memang berada di ruang-ruang yang berwajah Indonesia, namun perilakunya seperti orang asing. Dalam obrolan dengan beberapa teman usai nonton, kami sempat mempertanyakan, pegawai rendahan mana yang sepulang kerja biasa mampir ke kafe untuk menghilangkan stres dengan gelas-gelas bir? Saat istri opname dan perlu banyak biaya, alih-alih pontang-panting cari uang, kembali si Yahya lari ke kafe dan bir. Dan penjaga kafenya secergas Djenar Maesa Ayu pula. Dengan kata lain, di sini Koper mengulangi kesalahan Pasir Berbisik, seperti yang dikeluhkan Totot Indrarto: "kegilaan" membuat film tentang suatu dunia yang tidak dipahami betul.

Keasingan itu sangat terasa dalam skenarionya. Skenario Koper sejatinya ditulis dalam bahasa Inggris, baru kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sayangnya, kerja penerjemahan itu masih menyisakan bau yang tajam, terutama dalam dialog-dialog antara Anjasmara dan Djenar. "Apakah kamu mengetahui sesuatu yang orang lain tidak tahu?"

Para pemeran tampak sudah berupaya maksimal untuk membawakan materi tersebut meski masih terasa ada ketegangan pada para pemeran utama. Apakah mereka juga bingung bagaimana mesti menafsirkan tokoh-tokoh itu? Nada bicara Anjasmara, misalnya, entah kenapa seperti selalu ditekan setengah oktaf. Sampai saat mengusir Sri dari dapurnya pun, dia lebih terdengar menggeram ketimbang membentak.

Para figuran tidak diarahkan dengan baik, dibiarkan sekadar mengisi ruangan, tanpa tahu mesti bersikap atau berekspresi bagaimana. Perhatikan saja kerumunan orang di kantor dan di rumah Yahya. Hal serupa bahkan menimpa Djenar dan Arie Dagienkz saat mereka berdiri di latar belakang dalam adegan mengantar Yasmin ke mobil seusai opname. Yang tampil wajar dan rileks malah pemeran yang hanya tampil sekilas (cameo), seperti Fery Salim, Ninik L. Karim, dan Butet Kertaredjasa.

Selebihnya, saya menyukai beberapa close up dan extreme close up yang lumayan tidak biasa: sepasang kaki yang bergosokan, rokok menyala yang diisap dalam latar gelap, jam duduk yang menandakan rutinitas, dan ketiak berbulu. Wajah Jakarta juga hampir sesegar Jakarta dalam Janji Joni. Senang pula bisa berkenalan dengan lagu-lagu P. Ramlee, dan menyimak lengkingan Ubiet yang menyayat hati.

Akhirnya, saya ingin meminjam amatan Puthut EA tentang kepenulisan. Ia mencatat, seorang penulis cenderung asyik dengan 'keliaran kreatif' dan licentia poetica, sedangkan seorang penyunting memikirkan 'ketertiban kreatif' dan pro captu lectoris (demi daya tangkap pembaca). Ketegangan serupa berlaku pula bagi sebuah film, dengan peran penyunting berada di pundak sutradara, khususnya untuk film yang merupakan visi pribadi sutradaranya. Dengan Koper ini, Richard Oh tampak masih asyik dengan 'keliaran kreatif'-nya sendiri, dan belum berhasil membesutnya menjadi suguhan yang enak untuk 'dibaca' oleh penonton.

Oh, koper, koper yang terhilang, kalau bisa lurus-lurus saja, kenapa sih kaubikin berliku-liku?

Comments

Popular Posts