Adaptasi yang Mengganjal: Ceritanya Bagus, Latarnya Janggal
Ayah, Aku Mau Cerita... (Danial Rifki, 2026) adalah remake film thriller kriminal India berbahasa Malayalam, Drishyam (Jeethu Joseph, 2013). Drishyam berkisah tentang perjuangan Georgekutty dan keluarganya ketika dicurigai bertanggung jawab atas hilangnya Varun Prabhakar, putra tunggal seorang petinggi polisi, Geetha Prabhakar.
Saat rilis, Drishyam menjadi film Malayalam terlaris tahun tersebut, menuai pujian dari para kritisi, menyabet sejumlah penghargaan, dan menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan sinefil sebagai film dengan premis unik dan plot twist tak terduga. Lebih jauh lagi, magnet kuat film ini menarik sejumlah pihak untuk me-remake, baik di dalam maupun di luar negeri.
Di India sendiri, Drishyam telah dibesut ulang ke dalam empat bahasa daerah, yaitu Drishya (2014) dalam bahasa Kannada, Drushyam (2014) dalam bahasa Telugu, Papanasam (2015) dalam bahasa Tamil, dan Drishyam (2015) dalam bahasa Hindi. Di luar negeri, film ini digarap ulang di Srilanka sebagai Dharmayuddhaya (2017) dan di China sebagai Sheep Without a Shepherd (2019). Ayah, Aku Mau Cerita... (AAMC) menjadi remake ketiga di negara dan dalam bahasa asing serta film India pertama yang diadaptasi di Indonesia.
Dalam AAMC, Georgekutty malih jadi Andi Budiman (Vino G. Bastian). Ia beristrikan Marini (Niken Anjani) dan memiliki dua anak perempuan, tinggal di Desa Banaran, Jawa Tengah. Jalan hidup keluarganya berkelok mendadak ketika putri remajanya, Aisha (Ziva Magnolya), menjadi korban pelecehan oleh seorang pemuda. Dalam upaya membela diri, sang putri melakukan perlawanan yang berujung pada kematian pemuda tersebut.
Masalah menjadi jauh lebih rumit ketika diketahui bahwa korban adalah putra tunggal seorang Kapolres (Marsha Timothy). Saat seluruh aparat kepolisian bergerak mencari kebenaran, Andi—pria sederhana yang hanya mengandalkan kecerdasan, insting, dan pengetahuan yang ia peroleh dari film-film yang ditontonnya—harus melakukan segala cara untuk melindungi keluarganya.
Sebagai orang yang sudah menonton dan sangat menyukai film sumbernya, sepanjang menyimak AAMC saya mendapati perasaan yang saya kesulitan menemukan kata tepat untuk menggambarkannya. Di satu sisi, mau tak mau saya berdecak, "Apik juga adaptasinya"; di sisi lain, ada semacam kegelisahan yang mengganjal, sesuatu yang—mudah-mudahan ini kata yang tepat: terasa janggal.
Menonton film Indonesia, ganjalan yang umum muncul adalah soal cerita atau alur pengisahan yang suka berlubang-lubang. AAMC lain. Ia meliuk-liuk mengikuti siasat Andi Budiman melindungi keluarganya yang terkena musibah, berkelok-kelok secara lincah—nyaris seperti kisah sumbernya. Lalu, di mana masalahnya? Kemulusan alur ini, meminjam istilah Iriana Jok... eh Prameswari, sang Kapolres, "terlalu rapi"—dengan mesti menambahkan embel-embel yang menjengkelkan: untuk ukuran film Indonesia.
Sampai di sini, terasa bahwa mengangkut cerita bagus yang sudah teruji di pasar lain saja belum tentu langsung menambal masalah lubang plot dalam banyak film Indonesia. Dalam konteks remake, masih ada persoalan yang pelik: bagaimana cerita bagus itu diserap dan ditumbuhkembangkan dalam kondisi lokal di sini? Ada yang dipaksakan, terasa dicocok-cocokkan.
AAMC menampilkan, tentu saja, aktor-aktor Indonesia, bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia, berlatar sebuah kota kecamatan di Jawa Tengah, menyisipkan isu-isu relevan negeri ini (politik, penegakan hukum, pendidikan), tetapi entah kenapa terasa dibalut dalam pola pikir yang asing, seperti cangkokan, seperti novel saduran yang tiap-tiap beberapa halaman mengingatkan bahwa dirinya adalah novel saduran, bukan kisah pergulatan yang tumbuh secara organik di bumi lokal sini. Dengan kata lain, AAMC adalah adaptasi yang sukses mengambil bentuk luar kisah Drishyam, tetapi kurang tuntas dalam menghembuskan pernik-pernik napas lokal di jiwanya.
Saya ambil contoh satu saja: profesi tokoh utama. Di Drishyam, Georgekutty pengusaha teve kabel di Desa Rajakkad, Kerala. Menurut sumber di internet, layanan teve kabel adalah bisnis yang umum dan tersebar luas di wilayah itu. Bahkan, teve kabel adalah jaringan utama siaran teve di India. Profesi ini ditekuni berkat kecintaannya terhadap film. Dari mencermati film-film yang ditonton, Georgekutty memetik wawasan dan pelajaran hidup sehingga, meskipun pendidikan formalnya terbatas, ia tampil lebih kritis dan lebih cerdas di antara orang-orang desa di sekitarnya, dan nanti jadi senjata perlawanannya.
Setidaknya ada dua aspek di situ: jenis profesi, yaitu pengusaha teve kabel, dan karakteristik Georgekutty, yaitu kecintaannya terhadap film. Keduanya, sebenarnya, dua hal yang terpisah: orang yang mencintai film, tidak harus berprofesi sebagai pengusaha teve kabel; dan seorang pengusaha teve kabel belum tentu sekaligus seorang penggila film. Meskipun dalam Drishyam keduanya berkaitan erat, namun, menurut hemat saya, aspek pertama, yaitu jenis profesi Georgekutty, leluasa untuk diselaraskan dengan kondisi lokal di sini. Adapun aspek kedua, kecintaan Georgekutty terhadap film, mau tak mau mesti dipertahankan demi mendukung tuntutan plot cerita.
AAMC berusaha mengusung keduanya. Maka, Andi Budiman pun berprofesi sebagai pengusaha layar tancap. Profesi yang unik dan, bisa dipahami, dipilih sedekat mungkin dengan profesi Georgekutty, dan memudahkan untuk menjelaskan kedekatannya dengan film.
Sah-sah saja sebenarnya, tetapi, tetap saja, membikin kening berkerut dan menimbulkan ganjalan. Pengusaha layar tancap sukses—punya koleksi film jadul seperti film Benyamin dan Jaka Sembung—di Desa Banaran di lereng Gunung Sindoro? Menurut sumber internet juga, pengusaha layar tancap atau bioskop keliling di Jawa Tengah saat ini sudah sangat langka dan sebagian besar beralih fungsi atau tinggal kenangan, meski pemutaran insidental masih kerap diadakan oleh Dinas Kominfo atau komunitas seni budaya. Bagaimana dia membangun bisnis berceruk khusus dan langka tersebut?
Andi Budiman jadi serasa makhluk asing yang dipaksa turun di Banaran. Penyadur mestinya bekerja lebih keras, memikirkan profesi yang lebih cocok bagi seseorang yang bermukim di daerah pegunungan, tanpa menghilangkan kecintaan terhadap film, yang menjadi sumber ilmunya dalam bersiasat menghadapi polisi. Penyesuaian ini tentu bakal berdampak pada perlunya penyelarasan pernik-pernik lain dan mesti diupayakan tanpa mengganggu jalinan cerita, namun bakal menghadirkan warna lokal yang lebih kuat dan tidak terkesan janggal.
Sebagai penutup, sebuah komentar pribadi: sebagai orang Temanggung, yang tergopoh-gopoh menonton film ini karena ingin “pulang kampung”, saya kecewa: wilayah ini dihadirkan secara fisik, tetapi namanya dihapuskan. Polseknya di Banaran, tetapi Polresnya, yang seharusnya di Temanggung, ternyata dipindahkan jauh ke timur laut, yaitu di Salatiga. Bagaimana bisa! Mana ada sebuah warung makan di seberang kantor Polsek Banaran menyajikan tumpang koyor sebagai hidangan utama! ***
Yogyakarta, 21 Agustus 2026

Comments
Post a Comment