Posts

10 Mitos tentang Roh Kudus

Image
Salah satu tanda paling jelas yang menunjukkan bahwa orang percaya tidak betul-betul memahami apa yang terjadi di kayu salib adalah ia takut akan Roh Kudus dan karya-Nya. Ia memandang Roh Kudus sebagai Penginsaf Dosa dan Polisi meskipun Yesus menyebut Dia Penghibur dan Penolong. Cara pandang mereka terbentuk oleh tradisi perjanjian lama, bukan oleh kebenaran perjanjian baru. Berikut ini 10 mitos tentang Pribadi Roh Kudus. Mitos 1: Roh Kudus mencatat dosa-dosa saya. Kebenaran 1:  Roh Kudus tidak lagi mengingat-ingat dosa kita (Ibr. 10:17). Roh Kudus bukannya pelupa, tetapi kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang. Di kayu salib, keadilan sudah ditegakkan dan semua dosa kita sudah diampuni (Kol. 2:13). Mengampuni secara harfiah berarti menyuruh pergi. Dosa Anda telah dibuang sejauh timur dari barat (Mzm. 103:12). Allah telah memperdamaikan dunia dengan dirinya dan tidak lagi memperhitungkan pelanggaran mereka (2 Kor. 5:19). Dalam perjanjian lama, orang diingatkan ...

Dua Jalur Hukuman Mati

Image
Minggu, 17 Januari 2015, dilaksankan hukuman mati terhadap enam terpidana kasus narkoba. Lima eksekusi dilakukan di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah; satu lainnya di Gunung Kendil, Boyolali, Jawa Tengah. Membicarakan hukuman mati, saya menemukan kegagapan ini: lebih gampang menghadapi argumentasi ketimbang menghadapi sebuah kesaksian hidup. Menjelang dan sesudah eksekusi atas Nyonya Astini, terpidana mati kasus mutilasi pada 2005, saya membaca empat artikel opini – tiga kontra dan satu pro terhadap hukuman mati. Dan saya mendapati diri saya tidak terlalu peduli pada nasib Nyonya Astini, namun lebih asyik mencermati pro-kontra itu sendiri: mengangguk sepakat terhadap pendapat yang sejalan dengan konsep saya, mengerutkan kening saat membaca pendapat yang saya anggap tidak sahih. Selebihnya, pandangan saya terhadap hukuman mati tidak banyak berubah. Namun, bagaimana menepiskan sebuah pengalaman? Berbeda dengan teori yang dingin, lain dengan ceramah yang instruktif, sebuah kis...

PK: Pernyataan Besar, Jawaban Konyol

Image
  PK (Rajkumar Hirani, India, 2014) Peristiwa pertama: Alien berwujud manusia (nantinya dinamai PK) turun ke Rajasthan dalam keadaan telanjang untuk riset. Namun, orang pertama yang ditemuinya menjambret bandul kalungnya, padahal bandul itulah alat penghubungnya dengan pesawat luar angkasa yang mengangkutnya. Ia berusaha mendapatkan kembali bandul itu, dan pencarian ini membawanya ke Delhi. Kelakuannya yang aneh membuat orang menganggapnya mabuk (dalam bahasa Hindi: pee-kay, PK), dan mereka mengatakan, hanya Tuhan yang dapat menolongnya. Ia berusaha mencari Tuhan itu, dan kebingungan menemukan keragaman agama dan aneka tradisi menyembah Tuhan di kota itu. Peristiwa kedua: Di Belgia, Jaggu, reporter televisi, jatuh cinta pada Sarfaraz. Orangtuanya di Delhi menentang keras hubungan itu karena Sarfaraz orang Pakistan dan Muslim. Jaggu nekad mengajak Sarfaraz menikah, namun pria itu membatalkan rencana pada hari-H. Patah hati, Jaggu kembali ke Delhi, dan bekerja di televisi loka...

Menikmati Tuhan di Alam Terbuka

Image
Ketika anak-anak saya masih balita, hampir setiap pagi mereka mengajak berjalan-jalan. Selain mengoceh cerewet mengomentari macam-macam, mereka juga suka menyapa bunga-bunga, kupu-kupu yang melintas, atau berbicara dengan burung di sangkar milik tetangga. Dasar anak-anak, pikir saya. Memangnya ini negeri dongeng tempat binatang dan pohon-pohon bisa berbicara? Toh kadang-kadang saya ikut nimbrung juga. Ketika membaca buku Richard J. Foster, Celebration of Discipline, saya tercenung. “Berbicara” kepada bunga dan burung ternyata termasuk kebiasaan yang perlu dikembangkan oleh orang Kristen. Praktik ini merupakan salah satu bentuk studi: pembelajaran dari “buku-buku” nonverbal. Menurut Foster, aneka makhluk dan alam ciptaan Tuhan ini dapat berbicara dan mengajarkan sesuatu kepada kita kalau kita bersedia membuka telinga. St. Francis dari Asisi, misalnya, konon pernah menjinakkan serigala dan suka berkhotbah kepada burung-burung! Dan bukankah sejumlah ayat dalam Alkitab juga...

Dua Pangeran, Banyak Perempuan

Image
PRINCE OF EGYPT Sutradara: Brenda Chapman, Simon Wells, dan Steve Hickner Pengisi Suara: Val Kilmer, Ralph Fiennes, Michelle Pfeiffer, Sandra Bullock 98 menit, AS, 1998 Mengapa Ramses, Firaun Mesir, mengeraskan hatinya dan menolak untuk tunduk pada perintah Allah, agar membiarkan umat Israel pergi? The Prince of Egypt menawarkan sebuah "teori" menarik. Saat masih pangeran, Ramses dibesarkan bersama-sama dengan Musa, bayi Ibrani yang diselamatkan dan diangkat anak oleh Ratu Mesir, ibu Ramses. Mereka berdua bertumbuh sebagai pemuda yang sembrono. Namun, karena Ramses adalah calon pewaris tahta, raja menegurnya secara lebih keras. Bila sikap semacam itu dibiarkan, ia akan menjadi mata rantai yang lemah dalam dinasti penguasa Mesir. Bukannya mengubah sikap, ia malah marah. Ketika ia sudah menjadi firaun dan Musa mendatanginya, Ramses melihatnya sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa dirinya bukan mata rantai yang lemah. Ia justru akan membuktikan kalau ia bisa ber...

Mengisi Celah-Celah Kisah Bahtera Nuh

Image
NOAH Sutradara: Darren Aronofsky Pemain: Russell Crowe, Jennifer Connelly, Emma Watson 138 menit, AS, 2014 Nabi Nuh dan istrinya/ Tiga orang anaknya/ Tiga orang mantunya/ Masuk dalam bahtera... Barangsiapa lulus Sekolah Minggu, tak ayal ia hapal lagu itu. Lagu itu jadi sinopsis ringkas-padat kisah Nuh, yang tentu sering dituturkan di Sekolah Minggu dan mungkin dipentaskan sebagai drama. Film Noah mirip dengan lagu itu, namun dengan pendekatan lain. Lagu itu meringkas kisah Alkitab sepanjang empat pasal (Kejadian 6-9) menjadi dua bait lirik yang sederhana dan mudah diingat. Noah, sebaliknya, menguraikan kisah empat pasal menjadi film sepanjang 138 menit. Uniknya, dalam keringkasannya, lagu itu berusaha setia mempertahankan detail tentang jumlah orang yang mengisi bahtera Nuh. Sedangkan Noah? Ini yang hendak kita bahas. Jika kita menganggap kisah Nuh sebagai kebenaran sejarah sampai ke detail yang sekecil-kecilnya, film garapan Darren Aronofsky ini akan membikin tersedak. ...

Kegigihan Menghapuskan Perbudakan

Image
Sebuah cita-cita, dan perlu waktu 25 tahun untuk memperjuangkannya. Berlangsung di arena politik, yang cenderung diwarnai aneka intrik dan pergulatan kekuasaan, pencapaian tersebut kian mengesankan. Itulah prestasi William Wilberforce, anggota Parlemen dan aktivis reformasi moral di Inggris pada abad ke-18. Sepanjang 1782 sampai 1807, ia mengikhtiarkan penghapusan perdagangan budak di negeri adidaya abad itu. Upayanya ini dilandasi nilai-nilai kristiani dan dijalani dengan kegigihan, ketabahan, dan visi yang terfokus.  Pada mulanya, tampaknya tak ada yang mengira kalau Wilberforce akan menjungkirbalikkan dunia dengan kegigihannya. Ia suka menyeringai ramah. Badannya kecil dan agak timpang, sampai pernah ada yang menyebutnya shrimp. Kata ini secara harfiah berarti udang, namun juga bisa berarti cemoohan bagi orang cebol atau orang yang dianggap tak berarti. Dengan kecerdasan dan kefasihan bawaan, Wilberforce menapaki jenjang pendidikan dengan mulus sampai menjadi an...