Tiga Puisi di Kompas
Selamat Jalan, Mesin Cuci mesin cuci itu akhirnya minta pensiun setelah menemani kami hampir sepuluh tahun ia dibeli dari royalti novel pertama lantas mengikuti kami berkelana berpindah-pindah empat kontrakan —hidup ini hanya mampir ngontrak, bukan? ia biasa menempati sudut paling lembab siap menampung baju-baju kotor yang kami jejalkan ke perutnya dan ia berdengung lembut seperti senandung mengenali bagian-bagian paling intim dari hidup kami: keringat di celana dalam, percikan kuah kecap di gaun batik, ingus di lengan kemeja dan ia berdengung lembut seperti senandung seorang teman berkata baju-baju itu seperti ketabahan dan kotoran-kotoran yang melekat itu seperti kecemasan baju mesti dilepaskan, dicuci, dikeringkan, diseterika, dan siap dikenakan untuk menghadapi kecemasan yang lain lagi di sudut yang paling lembab itu mesin cuci setia menampung kecemasan-kecemasan kami sampai suatu pagi kami menemukan seekor tikus bersarang di bawah perutnya bercericit mengiringi dengung lembut...