Ilustrasi Menakjubkan Karya ABK
Fantasia, film animasi terobosan Disney pada awal kejayaannya, berangkat dari ide sederhana: Mengambil karya musik klasik terkenal dan memberinya ilustrasi berupa gambar-gambar animasi. Kebanyakan ilustrasi berupa cerita singkat, tetapi ilustrasi untuk bagian pertama, berdasarkan Toccata and Fugue in D Minor karya Johann Sebastian Bach, menampilkan pola-pola abstrak. Animasi garis, bentuk, dan awan-gemawan memancarkan suara dan ritme musiknya.
Ilustrasi untuk teks "Konser Musik" mirip dengan itu. Di tiap panel, terlihat siluet alat musik, misalnya viola, dan di sekelilingnya semburan cat akrilik dalam pola dan warna abstrak. Bayangkan Anda menutup mata sambil mendengarkan viola tersebut dimainkan: semburat warna dan pola abstrak itu seakan memancarkan nada-nada elok yang mengalun. Sungguh indah!
Dan, sungguh tidak terbayangkan bahwa yang mengerjakan ilustrasi tersebut adalah satu tim anak-anak berkebutuhan khusus.
Para ilustrator spesial itu tak lain ABK berlatar belakang autisme, down syndrome, dan slow learning di naungan House of Hope (HoH), Bandung, yang dipandegani Ibu Irene Ridjab. HoH menampung mereka, menyediakan pekerjaan enam jam per hari, dan menyalurkan minat mereka melalui kursus seperti musik dan memasak. Khusus untuk art therapy, HoH bekerja sama dengan Zumen Art, Surabaya, yang mendampingi secara online. ABK peserta art therapy inilah yang menggarap ilustrasi buku "Konser Musik".
"Saya bersyukur banyak yang mau membantu," kata bapak seorang ABK. "Mengurus ABK kan tidak gampang. Biayanya juga tidak sedikit. Anak saya sudah pindah tempat beberapa kali. Tiap kali berhenti karena kehabisan dana. Enam bulan terakhir ini dia ikut di House of Hope."
Ketika memesan teks, Bu Venta memberikan catatan: "Mereka ini, meskipun umurnya sudah 14 tahun, hanya bisa menggambar obyek-obyek sederhana. Satu benda dalam satu gambar."
Menggambar alat musik kan lumayan rumit juga, pikir saya. Ah, tentu mereka sudah punya cara untuk menyiasatinya.
Nyatanya, ide itu muncul dari Bu Venta. Gambar alat musik digunting dan direkatkan pada papan gambar. Tiap anak dipersilakan membuat lukisan abstrak dengan cat akrilik. Setelah rampung, gambar alat musik dikelupas, menyisakan siluet hitam, telah dikelilingi semburat warna-warni ekspresif. Memukau.
Untuk pameran dan peluncuran Little Dreamers, para ABK datang bersama pendamping, dari Bandung naik bus ke Surabaya melalui Semarang.
"Lumayan repot karena harus mengikuti kebutuhan mereka," kata bapak tadi. "Mereka ini bukan hanya ber-IQ rendah, tetapi kondisi tubuh, metabolisme, juga tulang-tulangnya rentan. Dan itu kondisi seumur hidup. Jadi, perjalanan ke sini tidak bisa terburu-buru. Kalau perlu berhenti, ya berhenti dulu."
Para ABK kelihatan bersemangat memasuki rooftop melingkar tempat pembukaan. Mereka tertawa, bertepuk tangan, berceloteh, paling ribut dan aktif sepanjang acara demi acara. Saat sesi foto bersama, mesti dipastikan semua anak sudah berkumpul, yang sedang ke toilet mesti ditunggu, agar tidak ada yang cemburu karena ditinggalkan.
Seorang anak menyiapkan kado khusus untuk guru kesayangan yang selama ini dia jumpai melalui ruang zoom. Ia merajut sendiri kupluk cantik warna hijau tua.
Memandangi mereka, dan memandangi panel demi panel ilustrasi karya mereka, saya sadar betapa saya diberkati. Sayalah yang mendapatkan kehormatan telah diajak bekerja sama dengan para ilustrator istimewa ini.
Pameran Little Dreamers dapat dinikmati di lobi DoubleTree by Hilton, Tunjungan, Surabaya sampai hari Minggu (13/8). Tontonlah! ***


Comments
Post a Comment