Posts

Cara Hebat untuk Menua

Image
Sebentar lagi Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games. Ribuan atlet akan berkompetisi untuk menunjukkan siapa yang lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat di benua ini. Kita menantikan rekor-rekor pencapaian baru tercatat. Kita memang cenderung bergairah dan merayakan segala sesuatu yang terukur, indrawi ( tangible ), dan mudah-mudahan eksak. Kita ternganga menyimak daftar orang-orang terkaya, asyik menonton film box office , bergairah mencari buku bestseller , dan, itu tadi, takjub menyimak rekor olahraga. Nobel, penghargaan paling bergengsi di dunia, juga cenderung disematkan pada pencapaian-pencapaian terukur—menurut ukuran kualifikasi bidang ilmu bersangkutan. Nobel Perdamaian pun diberikan berdasarkan dampak-dampak terukur, yang tentu saja jatuhnya relatif dan malah kerap mengundang kontroversi. Ada pula pencapaian yang tak kasat mata, tak terukur, intangible . Orang biasanya menyebutnya sebagai karakter. Integritas. Dedikasi. Disiplin. Sukacita. Toh, sejauh ini ...

Sikap Syukur yang Tak Mudah Padam

Image
Dalam paradigma bersyukur, paling tidak ada dua perspektif. Pertama, bersyukur untuk  segala keadaan. Kedua, bersyukur dalam segala keadaan. Ada perbedaan besar di antara keduanya. Bersyukur adalah suatu sikap religius. Istilah bahasa Inggrisnya, gratitude , berasal dari kata bahasa Latin gratus . Gratus  mengacu pada sikap merepons rahmat dan kebaikan Tuhan dengan menggunakan pemberian-Nya tersebut sesuai dengan maksud Sang Khalik. Bagi orang yang bersyukur untuk segala keadaan, keadaaan yang baik dan keadaan yang buruk adalah keniscayaan yang terberi. Ia merengkuh semuanya. Keadaan-keadaan itu tak terelakkan dalam hidup ini, kita hanya perlu tabah menghadapinya. Memang sudah dari sononya, mau diapain lagi? Sudah takdir. Tak ada yang bisa dilakukan untuk mengubahnya. Suatu sikap yang fatalistik. Sebaliknya, orang yang bersyukur dalam segala keadaan menyadari bahwa ada keadaan yang dapat diubah dan ada pula yang tidak. Ada keadaan yang baik, adil, dan sesuai denga...

100 Hari Menjelang Kiamat

Image
Anindita S. Thayf, Ular Tangga , Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2018, Tebal 732 halaman, Harga Rp165.000,00. Anindita S. Thayf turun gunung. Betul-betul. Pada akhir 2008 ia menjadi pemenang tunggal Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta dengan novel mungil berlatar Papua, Tanah Tabu . Awal 2018 ini, dari pondoknya di Turi, daerah perkebunan salak di lereng Gunung Merapi, Yogyakarta, ia menyajikan novel berikutnya, Ular Tangga , karya ambisius setebal bantal leher. Tanah Tabu  berlatar sejarah selayang pandang pulau paling timur di negeri ini, dengan menekankan pada nasib dan pergulatan kaum perempuannya. Ular Tangga  memaparkan sejarah sebuah bangsa.   Novel berlatar waktu 15 tahun sesudah Presiden Kedua undur ini adalah buku pertama dari Trilogi Ijo. Tiga Suara Ular Tangga dibuka dengan beredarnya selebaran menggegerkan yang berbunyi: “KIAMAT TIDAK LAMA LAGI. UMUR HIDUP SISA SERATUS HARI. SUDAHKAH ANDA SIAP?” (h. 25). Kepanikan segera menja...

Nasib Pejalan Kaki di Kota Ini

Image
Sabtu pagi, saat meluncur naik motor ke kolam renang, di depan saya ada dua bapak bersepeda dengan santai sambil bercakap-cakap. Di punggung kaos salah satu bapak tertulis, “Let’s share the road.” Imbauan yang sederhana, lembut, tetapi menohok. Sebelumnya saya menikung di sebuah pertigaan. Nah, pertigaan itu bisa menjadi contoh bagus bagaimana warga kota ini berbagi jalan. Menjelang tikungan, ada lampu lalu lintas dan penjelasan bahwa pengendara yang hendak berbelok ke kiri diharuskan menunggu lampu menyala hijau. Pada jam sibuk—pagi saat orang berangkat ke sekolah atau ke kantor, misalnya—pertigaan itu padat. Kendaraan yang melaju di jalan aspal umumnya mematuhi aturan tadi. Namun, tidak sedikit pengendara motor yang menderu di trotoar dan langsung berbelok ke kiri. Mereka melakukan dua pelanggaran sekaligus: merampas jalur bagi pejalan kaki dan menerabas lampu lalu lintas. Trotoar itu memang cenderung sepi dari pejalan kaki. Pertanyaannya: Trotoar itu sepi, maka peng...

Bagaimana Menafsirkan Pancasila Secara Kreatif?

Image
Mungkin dalam rangka Pekan Pancasila, seorang teman membagikan di Facebook artikel lawas Abdurrahman Wahid tentang Pancasila. Artikel berjudul “Negara Berideologi Satu, Bukan Dua” yang ditulis pada 2006 itu masih relevan, bahkan makin relevan, untuk kondisi saat ini. Gus Dur antara lain menegaskan bahwa telah “terjadi penyempitan pandangan mengenai Pancasila itu sendiri, yaitu pengertian Pancasila hanya menurut mereka yang berkuasa. Ini berarti pemahaman Pancasila melalui satu jurusan belaka, yaitu jurusan melestarikan kekuasan. Pandangan lain yang menyatakan Pancasila harus dipahami lebih longgar, dilarang sama sekali. Dengan demikian, sebenarnya yang terjadi bukanlah pertentangan mengenai Pancasila itu sendiri, melainkan soal pengertian Pancasila tersebut.” Pemahaman yang lebih longgar? Sebagai generasi yang dibesarkan pada era Orde Baru, pertanyaan itu amat menggelitik. Sejauh ini Pancasila terkesan sakral, sudah final, tak dapat diganggu gugat, lengkap dengan 36 buti...

Balada Televisi Rusak

Image
 Pengalaman Seorang Ayah Mengajari Anak Mencintai Buku ”Susah banget nyuruh anak-anak belajar. Tapi, kalau nonton tivi, membantah terus kalau disuruh berhenti,” keluh seorang ibu. ”Bagaimana, ya, menumbuhkan minat baca pada anak? Mereka lebih suka nonton tivi,” kata ibu yang lain. ”Anak-anak, kalau enggak dolan, ya nonton tivi terus,” timpal ibu yang lain lagi. Saya tersenyum menyimak obrolan itu. Baru-baru ini saya menemukan sebuah rahasia hebat untuk membangkitkan minat baca pada anak. Sebuah rahasia yang telah terkubur berabad-abad. Hanya masalahnya, saya tidak tahu berapa banyak orang yang mau mendengarnya. Anda mau? Hm... yakin? Sini, deh, saya bisiki. ”Rusakkan televisi Anda!” Lo, jangan memandang saya dengan kening berkerut begitu, dong. Resep itu sudah dicoba di dapur keluarga kami dan saya sudah melihat hasilnya dengan mata kepala sendiri. Dijamin manjur! Ceritanya, kira-kira sepuluh tahun lalu, ketika pindah ke kontrakan baru, saya membeli televisi b...

Lomba Bercerita, Semua Juara

Image
PPA IO0740 “Nain”, Muntilan, mengadakan lomba bercerita bagi anak kelas 4-6 SD pada Jumat (31/3/2017). Kristian dan saya diminta menjadi juri. Dua minggu sebelumnya, calon peserta dikumpulkan, diberi penjelasan singkat. Saat itu peminat tercatat 24 orang anak. Lumayan juga. Dengan bersemangat, saya menjabarkan apa saja yang perlu mereka persiapkan untuk lomba. Untuk memberi gambaran, saya memutarkan beberapa video pemenang lomba bercerita SD tingkat nasional beberapa tahun belakangan. Ternyata, melihat penampilan teman sebaya yang begitu lihai tersebut bukannya menyulut semangat mereka, melainkan malah merontokkannya. Banyak anak merengek-rengek membatalkan keikutsertaan mereka. Waduh, salah strategi saya. Mentor PPA menjelaskan bahwa lomba bercerita ini baru pertama kali diadakan. Anak-anak itu, yang begitu ribut dan mbeling kalau berkumpul, nyatanya keder jika diminta tampil seorang diri di depan. Lomba ini dimaksudkan untuk menantang mereka mengatasi kegamangan itu. J...