Sikap Syukur yang Tak Mudah Padam

Dalam paradigma bersyukur, paling tidak ada dua perspektif. Pertama, bersyukur untuk segala keadaan. Kedua, bersyukur dalam segala keadaan. Ada perbedaan besar di antara keduanya.

Bersyukur adalah suatu sikap religius. Istilah bahasa Inggrisnya, gratitude, berasal dari kata bahasa Latin gratus. Gratus mengacu pada sikap merepons rahmat dan kebaikan Tuhan dengan menggunakan pemberian-Nya tersebut sesuai dengan maksud Sang Khalik.

Bagi orang yang bersyukur untuk segala keadaan, keadaaan yang baik dan keadaan yang buruk adalah keniscayaan yang terberi. Ia merengkuh semuanya. Keadaan-keadaan itu tak terelakkan dalam hidup ini, kita hanya perlu tabah menghadapinya. Memang sudah dari sononya, mau diapain lagi? Sudah takdir. Tak ada yang bisa dilakukan untuk mengubahnya. Suatu sikap yang fatalistik.

Sebaliknya, orang yang bersyukur dalam segala keadaan menyadari bahwa ada keadaan yang dapat diubah dan ada pula yang tidak. Ada keadaan yang baik, adil, dan sesuai dengan maksud Tuhan; ada pula yang buruk, tidak adil, dan menyimpang dari kehendak-Nya.

Keadaan yang baik dapat dan perlu dirawat dan dipelihara dan, jika memungkinkan, ditingkatkan dan disempurnakan. Sebaliknya, keadaan yang buruk dan tidak adil perlu dikoreksi dan diperbaiki; jika perlu, dilawan dan dihilangkan. Mereka berdoa, “Tuhan, berikan kepadaku ketenteraman untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah; keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah; dan kearifan untuk mengetahui perbedaan di antara keduanya.”

Bukannya pasrah bongkokan, sikap bersyukur dimaknai sebagai undangan untuk melawan keburukan dan ketidakadilan serta memperjuangkan kesejahteraan bersama. Alih-alih suatu kepasifan, sikap bersyukur adalah pendirian yang revolusioner.



Hichki (Sidharth P. Malhotra, 2018) menggambarkan dinamika sikap bersyukur itu secara apik. Drama komedi ini diadaptasi dari autobiografi Brad Cohen, Front of the Class: How Tourette Syndrome Made Me the Teacher I Never Had. Bisa diduga, film komedi ini berlatar dunia pendidikan.

Tokoh utamanya, Naina Mathur (diperankan Rani Mukerji), mengidap sindrom Tourette, yaitu penyakit neuropsikiatrik yang membuat seseorang mengeluarkan ucapan atau gerakan yang spontan (tic) tanpa bisa mengontrolnya. Ia kerap tiba-tiba melontarkan ucapan ‘kwak-kwak’ berulang-ulang. Penyakit ini mengganjalnya sejak kecil. Teman-teman menertawakannya, guru-guru mendepaknya ke luar kelas.

Naina dikeluarkan dari 12 sekolah. Baru di sekolah ke-13, alih-alih kesialan, ia menemukan keberuntungan. Alih-alih penolakan sekali lagi, akhirnya ia mendapatkan penerimaan. Mr. Khan, kepala sekolah St. Notker, berkomitmen merengkuhnya, memperlakukannya seperti murid-murid lain.

Sikap Mr. Khan itulah yang menginspirasi Naina untuk menjadi guru. Namun, sepanjang lima tahun, kembali ia menghadapi penolakan demi penolakan. Ia ditolak oleh 18 sekolah, termasuk St. Notker yang menolaknya sebanyak lima kali.

Rentetan penolakan sejak kecil itu itu, selain menempa kegigihannya, juga menolong Naina untuk mengenali dirinya secara lebih baik. Dan, bersyukur karenanya. Ia mengerti keterbatasan dirinya, apa yang tidak bisa diubah, tetapi juga melihat apa yang masih bisa dikembangkan. “Tourette berpengaruh pada ucapan saya, bukan kecerdasan saya,” katanya. Tentang potensi dijadikan bahan olok-olok murid, ia berkata, “Saya akan memastikan, alih-alih menertawakan saya, saya akan mengajari mereka untuk tertawa bersama saya.”

Kegigihannya akhirnya berbuah. Ketika St. Notker terjepit oleh keadaan, Naina dipanggil. Tentu saja, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Dan, betapa istimewa keadaan itu! Ia diminta untuk mengajar kelas 9F, yang terdiri atas sembilan cowok dan lima cewek. Istimewanya, keempat belas siswa ini berasal dari daerah kumuh di sekitar sekolah dan bengal bukan kepalang. St. Notker terpaksa menampung mereka karena peraturan pemerintah.

Mereka tidak diinginkan oleh sekolahnya, guru-gurunya, dan murid-murid lainnya. Seorang murid mengejek kelas 9F sebagai Failure (kegagalan). Seorang guru berkata, “Kelas 9F adalah sampah kota yang membikin seluruh St. Notker membusuk!” Guru-guru yang diminta mengampu kelas ini angkat tangan, paling banter bertahan seminggu.

Naina, dengan demikian, berhadapan dengan dua tantangan sekaligus. Pertama, pihak sekolah yang sudah lepas tangan. Mereka sudah tidak tahu lagi apa yang mesti diperbuat dengan kelas 9F.

Menurut Naina, tidak ada murid yang buruk; yang ada adalah guru yang buruk. Seorang guru menangkis: tidak ada murid yang buruk, yang ada adalah murid yang tanpa harapan, yang tidak bisa diajar dan diperbaiki lagi. Film ini memotret perbenturan kedua sikap tersebut.

Catatan kecil, St. Notker seorang biarawan multitalenta. Ia pemusik, penulis, dan penyair handal—dan gagap. Mr. Khan masih berpegang pada nilai-nilai sang patron. Tampaknya tidak demikian dengan guru-guru pada era berikutnya.

Kedua, tentu saja, Naina mesti “menaklukkan” kelas 9F untuk membuktikan prinsipnya. Tidak gampang, karena kelas buangan ini telah membangun mekanisme pertahanan yang malah merusak diri dan lingkungan mereka. Karena diisolasi, mereka membangun dunia sendiri, hidup semau-maunya. Karena orang kehilangan harapan pada mereka, mereka pun tidak berharap banyak pada diri sendiri. Karena dianggap sebagai sampah, mereka pun membiarkan diri jadi sampah.

Dan, mereka menguji guru-guru yang hendak masuk ke dalam dunia mereka. Secara ugal-ugalan.  Adapun Naina, yang telah terbiasa menelan penolakan, nyatanya tak gampang ditepiskan. “Apa sih yang hendak kalian buktikan? Bahwa tidak ada orang yang bisa menghancurkan kalian!? Mungkin kalian heran, sebenarnya tidak ada orang di sini yang ingin menghancurkan kalian. Namun, yah, kami ingin mengajar kalian,” katanya.

Dan, anak-anak itu sejatinya memang ingin diajar. Sangat ingin. Namun, mereka hendak memastikan, apakah sang guru benar-benar mau mengajar mereka, mau tetap bertahan, tidak meninggalkan mereka ketika melihat kenakalan mereka.

“Ibu pernah meminta kami menuliskan ketakutan terbesar kami. Saya benar-benar takut, Bu. Saya takut saya tidak akan pernah sebaik anak-anak kelas 9A (kelas anak-anak pintar di St. Notker). Namun, yang paling saya takuti adalah percaya pada seseorang. Siapa saja. Bahkan pada diri saya sendiri atau Ibu. Takut kalau-kalau Ibu juga akan meninggalkan kami,” kata seorang murid. Sungguh menggetarkan.

Sebagai orang yang sudah bolak-balik ditolak, Nania dapat berempati dengan mereka. Tampaknya ia dapat membaca bahwa di balik kegeraman dan kekurangajaran kelas 9F, sebenarnya tersembunyi ketakutan, keminderan, ketidakberdayaan.  

Untuk meretakkan cangkang penolakan mereka, Nania mendayagunakan berbagai upaya. Tak semuanya efektif. Sampai ia menemukan senjata paling ampuh itu: hubungan pribadi. Dalam era digital, di tengah kelimpahan berbagai media dan teknologi pembelajaran, pendekatan personal ini nyatanya tak bisa ditepiskan. Hubungan pribadi tetap merupakan jantung pembelajaran.

Suatu ketika ia mengadakan pertemuan orangtua murid. Tak seorang pun hadir. Akhirnya, ia memutuskan untuk berkunjung ke rumah murid-muridnya itu. Melalui kunjungan itu, ia dapat melihat kehidupan dan keluarga mereka secara langsung, dan akhirnya bisa mengenal mereka masing-masing secara lebih dekat.

Ia menyaksikan tantangan yang mereka pergumulkan, sekaligus menemukan keunikan dan kekuatan mereka. Berdasarkan masukan itu, ia dapat memikirkan langkah-langkah pembelajaran yang cocok bagi mereka, mengasah dan mempertajam kekuatan mereka, sekaligus relevan dengan tantangan keseharian mereka.

Ia menggugah mereka untuk menyadari keburukan yang perlu dihilangan dan ditinggalkan; dan kebaikan yang perlu dirawat dan ditingkatkan. Ia menolong mereka menyalurkan energi kenakalan secara positif dan kreatif. Bukan hanya agar mereka menjadi murid yang pintar, melainkan bertumbuh menjadi manusia yang bermartabat.

Seiring dengan itu, ia berhasil mencelikkan mata pihak sekolah, betapa mereka telah bersikap diskriminatif dan tidak adil terhadap sekelompok anak miskin. Pendidikan, yang semestinya mencerdaskan dan mendatangkan perubahan hidup yang baik, malah nyaris memupus harapan siswa yang sebenarnya kaya potensi. Anak-anak itu menunggu sentuhan orang-orang yang tahu bagaimana cara bersyukur dalam segala keadaan.

Dalam diri Naina Mathur, kita melihat sikap bersyukur yang tak gampang dipadamkan. Sebaliknya, ia menggugah orang lain untuk menjalani hidup dengan sikap bersyukur yang serupa. Kwak-kwak! ***

Tulisan ini telah dimuat di kanal Kolom (Detik) pada Jumat, 27 Juli 2018.

Comments

Popular Posts