Si Pembunuh dan Sang Uskup



Dalam Satu, Dua, Pasang Gesper Sepatunya, Agatha Christie menyodorkan lebih dari sekadar kepelikan kisah detektif.

Si pembunuh seorang tokoh terhormat. Saat kejahatannya dibongkar, dengan tenang ia mendengarkan paparan Poirot, dan bahkan dengan penuh martabat berusaha membenarkan posisinya: Bahwa pembunuhan telah menjadi alternatif yang tak terelakkan baginya.

“Tidakkah Anda menyadari, Poirot, bahwa keselamatan dan kesejahteraan seluruh bangsa ini tergantung pada saya?”

“Saya tidak berkepentingan dengan bangsa, Monsieur. Saya berkepentingan dengan pribadi-pribadi yang memiliki hak untuk tidak diambil nyawanya.”

Mengatasnamakan kepentingan bangsa, lalu dengan enteng mengorbankan empat nyawa manusia–sebuah reduksi yang terkesan agung. Dan, bukankah kita masih mendengar gemanya? Mencintai dan memperjuangkan kemanusiaan, berlagak membela kesejahteraan sebuah bangsa, tampaknya memang lebih mudah daripada mencintai manusia secara perseorangan. 

Negara ini pun melakukan reduksi serupa. Demi kepentingan bangsa—lebih persisnya: demi kepentingan segelintir penguasa—nyawa manusia bisa melayang tanpa harga. Di sini reduksi itu telah menggilas nama-nama seperti Marsinah, Udin, Theys, Munir, Salim Kancil, dan Jopi Perangin-angin. Siapa lagi korban yang bakal jatuh?

Sebelum melangkah lebih jauh, rasanya kita perlu merenungkan sebuah pertanyaan substansial: Siapakah manusia? Bagaimana sepatutnya kita memperlakukan manusia?

Kita dapat menggalinya melalui risalah keagamaan. Kita dapat menelaahnya melalui wacana filsafat. Namun, gambaran tentang manusia dapat pula tampil secara berkilau melalui karya sastra. Karya elok Victor Hugo, Les Misérables, yang dialihbahasakan dengan luwes oleh Anton Kurnia, adalah salah satu contohnya.

Kisahnya tentang Jean Valjean, narapidana yang baru saja dibebaskan dari kamp kerja paksa. Ia mesti membawa KTP kuning, yang membuatnya diusir sewaktu hendak memesan kamar dan makanan di penginapan.

Ia pun mengalami nasib mirip dengan sosok dalam lagu Ebiet G. Ade Kalian Dengarkah Keluhanku. Barangkali ia berjalan terseok-seok sembari bergumam pilu, “Tetapi nampaknya semua mata semua mata menatapku curiga. Seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku.” Terbebas dari penjara tak membuatnya terbebas dari penghakiman masyarakat.

Malam itu ia terpaksa berbaring di atas bangku batu. Namun, seorang perempuan membangunkannya, dan menyuruhnya mengetuk pintu sebuah rumah.

Rumah itu ternyata rumah seorang uskup, penggembala umat setempat. Uskup itu mempersilakannya duduk dan menghangatkan diri sembari menunggu makanan dihidangkan dan tempat tidur disiapkan baginya. Valjean nyaris tak percaya mendapatkan sambutan seramah itu.

“Monsieur Pastor,” kata lelaki itu, “Anda baik sekali tidak mengusirku. Anda menerimaku di dalam rumah Anda. Anda menyalakan lilin untukku. Aku tak akan menyembunyikan pada Anda dari mana aku berasal dan betapa menderitanya diriku.”

Uskup yang duduk di dekatnya menyentuh lengan lelaki itu dengan lembut dan berkata, “Anda tak perlu mengatakan padaku siapa diri Anda. Ini bukanlah rumahku. Ini adalah rumah Kristus. Siapa pun yang datang tak perlu ditanyai apakah ia punya nama. Yang perlu ditanyakan adalah apakah ia punya penderitaan. Anda sedang menderita. Anda lapar dan haus. Selamat datang. Tak perlu berterima kasih padaku. Jangan katakan bahwa aku membawa Anda masuk ke rumahku. Ini bukan rumah siapa pun, kecuali mereka yang membutuhkan perlindungan. Wahai pejalan, kukatakan pada Anda, Anda lebih berhak berada di sini daripada aku sendiri. Apa pun yang ada di sini adalah milik Anda. Apa perluku mengetahui nama Anda? Lagi pula, sebelum Anda mengatakannya padaku, aku sudah tahu.”

Lelaki itu membelalakkan matanya karena takjub.

“Betulkah? Anda tahu namaku?”

“Ya,” sahut Uskup, “nama Anda adalah Saudaraku.”

Sang Uskup tidak menilai Valjean berdasarkan masa lalunya. Ia tidak ikut melanggengkan stigma yang dilekatkan melalui KTP kuning. Ia tidak menanyakan agama atau asal-usul lelaki itu. Ia tidak memperhitungkan potensi bahaya dan kerugian jika menerima si narapidana.

Sebaliknya, alih-alih walk-out—eh, alih-alih mengusir dan membiarkan lelaki itu kedinginan di luar, ia menyambutnya persis karena kebutuhannya: perlindungan. Ia memilih merengkuh lelaki itu berdasarkan jati dirinya yang paling hakiki: saudara.

Saudara, dalam othak-athik gathuk khas orang Jawa, berarti seudara, satu udara. Siapa saja yang menghirup udara yang sama dengan kita, dia adalah saudara kita, sesama manusia.

Sikap sang Uskup terhadap Valjean sama sekali terbalik dengan pandangan si pembunuh dalam novel Agatha Christie tadi. Si pembunuh menghabisi nyawa sesamanya karena menganggap mereka sebagai musuh yang mengancam kesejahteraan bangsanya. Sebaliknya, sang Uskup mengulurkan belas kasihan. Yang satu mengusung budaya yang mendatangkan kematian; yang lain menumbuhkembangkan budaya yang membuahkan kehidupan. Nyatanya, kemurahan hati sang Uskup melembutkan hati Valjean dan mengubah jalan hidupnya secara radikal.

Dalam pertarungan nilai semacam ini, perbedaan antara mengasihi kemanusiaan dan mengasihi manusia sebenarnya merupakan konflik antara hasil abstraksi dan kehadiran konkret. Orang cenderung menyanjung abstraksi, entah berupa ideologi atau konsep, untuk menepis kegagapannya dalam menyambut sosok riil sesamanya. Kita dapat saja berkutat dalam konsep-konsep agung semacam perdamaian dunia atau kemanusiaan yang adil dan beradab, tetapi gagap ketika berhadapan secara langsung dengan si Polan dan si Dadap.

Martin Luther King Jr., pejuang hak-hak sipil di Amerika Serikat, menawarkan rumusan sederhana tetapi jitu untuk menakar kepedulian pada sesama. Ketika bertemu dengan sesama yang tertimpa musibah dan memerlukan pertolongan, bagaimana respons kita?

Mereka yang segaris dengan si pembunuh, bahkan di tengah musibah pun, alih-alih menyingsingkan lengan baju untuk mengulurkan bantuan, masih juga berfokus pada kepentingan pribadi. Ia bertanya, “Jika aku berhenti dan menolong orang ini, apa yang akan terjadi padaku? Jangan-jangan aku malah terseret ikut terkena musibah. Memangnya ada keuntungan yang bisa kudapatkan?”

Mereka yang selaras dengan jalan hidup sang Uskup memilih berpihak pada korban yang terluka dan tak berdaya. Ia bertanya, “Jika aku tidak berhenti untuk menolong orang ini, apa yang akan terjadi padanya? Apa yang perlu kuupayakan untuk menolongnya mengatasi musibah ini?”

Dari situlah semestinya konsep luhur tentang kemanusian dibangun. Dengan menjejak bumi, bukan dengan mengukir langit. Dengan kepedulian pada sesama yang kita jumpai secara perseorangan hari demi hari. Dengan menepiskan budaya kematian dan menyuburkan budaya kehidupan. Ketika kepedulian pada sesama ini kian merebak, taman kemanusiaan pun akan marak oleh bunga-bunga persaudaraan. Semogalah demikian. ***

Comments

  1. Waduh nulis e panjang banget. Perlu belajar sama suhu besar ini.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts