Little Dreamers
"Pak Arie, kerja sama membuat buku cerita bergambar yuk!" ajak Bu Venta pada awal tahun. "Pak Arie yang buat cerita, nanti anak-anak Zumen menggambar ilustrasinya."
Menulis cerita anak, bagi saya, merupakan kerja menulis paling sulit: bagaimana mengungkapkan suatu ide atau cerita dengan bahasa yang cocok dan menarik dengan kelompok usia sasaran. Saya paling jarang menyentuh jenis ini. Di sisi lain, saya tak ingin melewatkan tantangan menarik ini.
Bu Venta lalu menggambarkan detail buku cerita yang hendak dikerjakan. Setiap cerita terdiri atas sepuluh halaman atau panel. Nanti ilustrasi setiap panel akan digarap oleh anak yang berbeda-beda.
Asyik juga konsepnya. Berarti saya perlu menyiapkan teks yang memberi ruang bagi anak-anak untuk unjuk kreasi. Teks cukup sebagai pelengkap. Sorotan utama biar tertuju pada gambar anak-anak.
Saya hanya mengirimkan teks. Sederhana saja, tetapi mudah-mudahan gampang untuk diterjemahkan jadi gambar oleh anak-anak.
Mestinya, saya ikut membahas dekskripsi ilustrasinya. Namun, karena saya di Yogya dan kebanyakan anak Zumen di Surabaya, tugas tersebut dilakukan oleh para guru pendamping, baik secara offline maupun online.
Saya tidak mengikuti proses itu. Duduk manis saja. Menunggu. Sambil membatin, kemampuan anak kecil membuat ilustasi mestinya masih sederhana. Saya bayangkan seperti gambar anak yang biasa muncul di majalah atau halaman anak di koran itu.
Bulan lalu, Bu Venta mengirimkan PDF cerita yang sudah diberi ilustrasi. Saya terlongong. Lho? Lho, kok begini? Kok bagus sekali? Benar-benar di luar dugaan! Saya mengoreksi berkas itu sambil tersenyum gembira.
Betapa tak sabar saya melihat karya asli dan buku jadinya!
Kesempatan itu datang hari Minggu (6/8). Little Dreamers, begitu judul kumpulan cerita itu, diluncurkan di DoubleTree by Hilton, Tunjungan, Surabaya. Adapun panel demi panel gambar karya anak dipamerkan di lobi hotel.
Little Dreamers berisi enam cerita. Tiga cerita (Berani Bertanya di Kelas, Menjadi Anak yang Jujur, dan Tersesat di Hutan) ditulis oleh Irma Limena. Saya menulis tiga teks lainnya: Konser Musik, Naik Bus Kota, dan Burung Jay Biru. Teks disajikan dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Mandarin.
Menilik gambar anak panel demi panel, saya hanya bisa berdecak kagum. Melampaui bayangan dan harapan di kepala. Lebih kagum lagi mendengar cerita Bu Venta tentang proses kreatif mereka bersama para pendamping, lengkap dengan keseruan dan keributan di antara mereka.
Kejutan istimewa bagi saya: ilustrasi untuk teks Konser Musik dikerjakan oleh anak-anak berkebutuhan khusus. Bu Venta memang sudah menjelaskannya di awal, tetapi mendengar ceritanya lebih detail, hati saya luruh dalam haru.
Nanti akan saya coba menceritakan beberapa detail-detail mengesankan itu dalam tulisan lain.
Sebelum meninggalkan hotel, sekali lagi saya menilik panel demi panel Little Dreamers. Saya bergumam, "Benar juga kata Eli Gemstone, God moves in mysterious ways. Gracious way." ***

Comments
Post a Comment