Posts

Lomba Bercerita, Semua Juara

Image
PPA IO0740 “Nain”, Muntilan, mengadakan lomba bercerita bagi anak kelas 4-6 SD pada Jumat (31/3/2017). Kristian dan saya diminta menjadi juri. Dua minggu sebelumnya, calon peserta dikumpulkan, diberi penjelasan singkat. Saat itu peminat tercatat 24 orang anak. Lumayan juga. Dengan bersemangat, saya menjabarkan apa saja yang perlu mereka persiapkan untuk lomba. Untuk memberi gambaran, saya memutarkan beberapa video pemenang lomba bercerita SD tingkat nasional beberapa tahun belakangan. Ternyata, melihat penampilan teman sebaya yang begitu lihai tersebut bukannya menyulut semangat mereka, melainkan malah merontokkannya. Banyak anak merengek-rengek membatalkan keikutsertaan mereka. Waduh, salah strategi saya. Mentor PPA menjelaskan bahwa lomba bercerita ini baru pertama kali diadakan. Anak-anak itu, yang begitu ribut dan mbeling kalau berkumpul, nyatanya keder jika diminta tampil seorang diri di depan. Lomba ini dimaksudkan untuk menantang mereka mengatasi kegamangan itu. J...

Lumayan Seru, Tapi Tanpa Kesegaran Baru

Image
Miss Peregrine's Home for Peculiar Children (Tim Burton, AS, 2016). Pertanyaan #1: Bagaimana rasanya jatuh cinta dengan pacar kakekmu (ya, pacar kakek, dan bukan nenekmu), yang berpenampilan seumuran kamu? Pertanyaan #2: Jika ada satu hari dalam hidupmu yang dapat kaujalani berulang-ulang, hari manakah yang kaupilih? Mengapa? Pertanyaan semacam itu meletik dalam benak saya ketika menonton Miss Peregrine's Home for Peculiar Children. Film terbaru Tim Burton ini diangkat dari novel berjudul sama karya Ransom Riggs. Saya belum membacanya. Saya berpegang pada pandangan bahwa film adaptasi yang baik mestinya mampu berdiri sendiri. Untuk menikmatinya, penonton tidak harus sudah akrab dengan materi asalnya. Film ini merupakan perpaduan antara kisah fantasi, misteri, dan fiksi ilmiah, khususnya soal manipulasi waktu dan lorong waktu. Jalinan kisah dibingkai dalam dinamika relasi antara kakek, ayah, dan cucu. Ada pula bumbu sekilas kisah cinta yang melibatkan itu tadi: seora...

Kehidupan yang Baik

Image
Apakah kebaikan itu? Apakah kebahagiaan itu? Kapan kita merasa kehidupan kita baik-baik saja? Kapan kita merasa bahagia? Kapan kita merasa diberkati? Sebagai orang percaya, kita menyatakan bahwa Tuhan itu Imanuel: Dia senantiasa menyertai kita. Tidak pernah meninggalkan kita, tidak pernah membiarkan kita seorang diri. Pertanyaannya: Pada waktu-waktu seperti apa kita lebih mudah merasakan penyertaan-Nya, dan kapan pula kita merasa Dia jauh, tidak peduli, bahkan berdiam diri? Kalau saya, sewaktu matahari pagi bersinar cerah, sewaktu stok makanan dan camilan di rumah terjaga, sewaktu kami sekeluarga sehat sejahtera, sewaktu saldo rekening terus meroket, sewaktu hasil kerja saya dihargai orang, sewaktu kami sekeluarga bisa bertamasya dengan riang gembira... singkatnya, sewaktu saya merasa sukses dan bahagia, saat itulah saya cenderung lebih gampang merasa dan mengklaim bahwa Tuhan memeluk saya. Saya merasa hidup saya baik-baik saja. Saya merasa bahagia. Saya merasa diber...

Selama-lamanya?

Image
Baca: Yohanes 14:12-18 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya. (Yohanes 14:16) Anda menyukai lagu “Janji-Mu Seperti Fajar”? Lagu itu dengan indah menggambarkan janji Allah seperti fajar yang tak berhenti bersinar, kasih-Nya seperti sungai yang terus mengalir. Pertanyaannya, seberapa besar sebenarnya kita percaya akan janji-Nya? Simak, misalnya, janji dalam nas ini: bahwa Roh Kudus akan menyertai kita selama-lamanya (ay. 16). Selama-lamanya? Ya. Bapa menganugerahkan Roh Kudus sebagai Penolong kita untuk seterusnya. Tak akan pernah diambil lagi. Tak bakal dibatalkan. Tak berkesudahan. Tanpa jeda. Dalam keadaan apa pun. Tetap bertahan sekalipun fajar berhenti bersinar. Tetap abadi sekalipun sungai-sungai tidak lagi mengalir. Masalahnya, kita sering membatasi janji Allah dengan syarat-syarat buatan sendiri. Kita menganggap Roh Kudus akan meninggalkan kita ketika kita tidak taat dan...

Di Kota Ini, Hujan Tertawa

Image
alun-alun kidul adalah brongkos telur dan es campur. sebuah dunia lain kausembunyikan di antara beringin kembar: kaututup mata, melangkah sambil tertawa, gigimu membiaskan cahaya neon. aku ingat hujan yang gugur ketika kita mengambil selfie di pulau cemeti tetapi kau tertawa juga. seperti kembang api berpijar. hanya dalam tidur, hanya dalam lelap mimpi, bisa kusimpan: leleh tangismu. Jogja, 2014

Pelatihan Menulis Tegak Purwokerto

Image

Menyentuh Si Kusta

Image
Baca: Markus 1:40-45 Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” (Markus 1:41) Kusta adalah penyakit infeksi kronis pada saraf yang merusak saraf, kulit, anggota tubuh, dan mata, serta dapat membawa maut. Dulu penderitanya diasingkan oleh masyarakat. Mereka dianggap najis secara sosial, juga secara ritual—tidak layak ikut beribadah. Lengkap sudah. Sampah yang sesampah-sampahnya. Mana ada orang waras yang sudi berdekat-dekatan dengan mereka?     Dalam Markus 1:41, Yesus tergerak hati oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh seorang kusta yang datang memohon kesembuhan kepada-Nya, dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Tindakan Yesus ini sungguh menghangatkan hati. Dia menyambut orang itu dengan terbuka. Mungkin memaklumi betapa pelik perjuangan yang ditempuh orang itu untuk menemuinya. Dan, Dia tergerak oleh belas kasihan. Dia bisa sa...