Posts

Mendebarkan... dan Keren!

Image
MISTERI PERAWAN KUBUR (Abdullah Harahap, Paradoks, 2010, 318 h.) Waktu remaja dulu, aku enggan menyentuh novel-novel Abdullah Harahap (AH). Selain rada ngeri dengan genre horor yang ia usung, kemasan novelnya juga memberi kesan kacangan, sekadar mencari sensasi, plus konon bertabur bumbu adegan seks yang aduhai. Namun, saat beberapa novel AH diterbitkan ulang oleh Paradoks, yang merupakan imprint Gramedia Pustaka Utama, dan disunting oleh Eka Kurniawan, aku jadi tergelitik. Dan, baru pagi ini aku menyelesaikan salah satunya: Misteri Perawan Kubur (MPK). Nyatanya, aku salah besar. Horor? Memang iya. Bumbu seks? Ada, wong memang labelnya 'novel dewasa'. Namun, sungguh keliru kalau mengira AH membesutnya secara asal-asalnya. Sebaliknya, cerita mencekam ini justru tersaji secara amat elok dan elegan. (Ehem, keterampilan menulisnya jelas menang kelas dari AH yang satunya lagi itu.) Bab "Satu" langsung merenggut kita ke alam misteri: pembinasaan atas seor...

Rembulan Purnama

siapakah yang menggonggong saat purnama? rembulan? dan serigala hanya memantulkannya kepada sabana yang sunyi jogja, 2013

The Power of Tanggap Ing Sasmita

Image
FINDING SRIMULAT (Charles Ghozali, Indonesia, 2013) Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha! Sumprit! Ini film gilak! Sudah lama aku tidak tertawa--dan menangis!--seperti ini di bioskop! Kereeeeen! "Finding Srimulat" bukan film yang mengandalkan jelujuran cerita yang sebab-musababnya rapi jali. Dengan bangunan cerita yang sederhana (Adi, seorang pemuda penggemar Srimulat, mengajak kelompok ini untuk manggung lagi), dan malah ada yang menyebutnya wagu, toh kita dibawa berayun-ayun dari nyengir, tertawa, dan, ganjilnya, menangis juga. Ini sebuah film yang mengajak kita mengenal lebih dekat Srimulat, kelompok lawak legenderis negeri ini. Selain memberi kita kesempatan ikut-ikutan nonton Srimulat di balik dan di atas panggung, ada juga adegan musikal "Lenggang Puspita" di Stasiun Balapan yang jika d...

Surat Tirza untuk Ibu, tentang Hamster Kesayangannya

Image
Jumat (15/2), kami sekeeluarga mengantar Tirza (10 tahun) mengikuti lomba menulis surat, mengungkapkan rasa sayang pada orangtua, di Wowfest 2013, Yogyakarta. Kukatakan padanya, yang penting bukan mencari kemenangan, melainkan mengasah dan mempertajam kecakapan menulisnya. Ia hanya perlu bertanding dengan dirinya sendiri, memperbaiki dan meningkatkan kualitas kinerjanya. Kemenangan itu bonus. Ia tampak bersemangat. Di luar lomba menulis, kami menikmati beberapa acara lain di ajang itu.  Saat pengumuman pemenang pada Minggu (17/2) malam, syukurlah, Tirza menjadi juara 2. Berikut ini suratnya: Ibu tersayang, Ibu sudah baik sekali, memberikan seekor hamster kecil yang lucu. Imut lagi. Karena Ibu sudah berbaik hati sekali, memberikan seekor hamster kecil yang lucu, karena aku sudah lama menginginkan seekor atau dua ekor hamster kecil yang lucu, aku mau menjaga hamster-hamster itu. Karena mereka mahal dan perawatannya susah, aku akan berusaha untuk menjaga mereka sebai...

Kemiskinan, Hukum, dan Anugerah dalam Les Misérables

Image
Istriku, meski sudah kubujuk-bujuk, tidak mau menonton film ini. Kenapa? "Sedih pasti." Dan, benar, ini film sedih. Dan mengerang dengan penuh kepedihan. Alih-alih dialog, film ini mempersilakan para aktor menyanyikan isi hatinya dengan sepenuh perasaan. Lirik lagunya berupa bait-bait puisi yang mencoba menyarikan pesan novel adiluhung Victor Hugo yang menjadi sumbernya. Alih-alih bentangan lanskap dan adegan-adegan kolosal, film ini memilih lebih banyak menampilkan close up demi close up pemainnya, yang membuat penonton ikut merasakan deru napas mereka. Menyesakkan dada. "Les Misérables" garapan Tom Hooper (Inggris, 2012) ini sukses dalam dua level: sebagai komentar sosial dan sebagai tamsil rohani. Sebagai komentar sosial, ia menggambarkan bahwa "Selama masih ada pengutukan sosial, dengan alasan hukum dan adat, yang saat berhadapan dengan peradaban secara artifisial menciptakan neraka di mua bumi dan merumitkan takdir ilahiah dengan ketid...

Bencana Tsunami Menggulung Emosi

Image
Belum sampai setengah jam, mataku sudah memanas menyaksikan Maria dan anak sulungnya, Lucas, berpanggil-panggilan saat melihat satu sama lain tersapu arus deras tsunami yang menggulung mereka kian menjauh dari pantai. Di satu titik ketika arus agak mereda, barulah mereka berhasil saling menggapai, berpelukan, tak mau lagi kehilangan satu sama lain. Namun, mereka tak menemukan Henry, suami dan ayah tercinta, serta dua adik Lucas, Thomas dan Simon. Maria luka parah di bagian dada dan kaki, sedangkan Lucas hanya tergores ringan di sana-sini. Ketika keduanya hendak menyelamatkan diri dengan memanjat sebuah pohon tinggi besar, mereka mendengar suara seorang anak kecil meminta tolong. Maria bersiap mencarinya, namun Lucas mencegahnya karena menganggap hal itu terlalu berisiko. "Bagaimana seandainya anak itu Thomas atau Simon?" kata Maria. "Thomas dan Simon sudah mati!" kata Lucas. Maria mendekap Lucas. "Sekalipun begitu, kita akan berusaha menolong semamp...

Dalam Rinai Hujan

Image
Ini bukan kisah cinta; ini kisah Cinta. Siwi dan Widi adalah kakak-beradik anak Bu Mujiyo, seorang janda. Siwi masih menganggur selulus dari SMA. Ia ingin bekerja di luar kota, tetapi beberapa tawaran yang ada tidak menarik baginya. Malah ibunya menyarankan untuk menikah.  Widi cerdas dan jago elektronik, tapi kadang-kadang agak teledor. Suatu saat Siwi tertarik ikut Sumarni, yang tampaknya sudah sukses di Jogja. Karena tidak bisa pamit pada ibunya yang sedang pergi, Siwi menitipkan pesan pada Widi, yang ternyata tidak menyimak dengan baik. Tentu saja Bu Mujiyo kalut ketika mengetahuinya, apalagi ternyata telepon genggam Siwi tertinggal sehingga mereka kesulitan menghubunginya. Mereka kemudian mendapatkan alamat Marni dari neneknya, namun upaya Bu Mujiyo kandas karena ternyata Marni sudah pindah kos. Lebih mengguncangkan lagi, dari keterangan si pemilik kos, ada kemungkinan Marni sebenarnya bukan perempuan baik-baik. Bagaimana Bu Mujiyo menghadapi keadaan t...